Cerita Sex Dapat Berhubungan Dengan Tanteku Sendiri Yang Mesum Part 3
Agenda tivi tidak ada yang luar biasa. Pada akhirannya saya ingat untuk membikinkan Eki minuman. Sekaligus membawa kopi ke kamar tamu saya duduk temani anak itu. “Wah.. terima kasih, Bu. Kok ribet?” katanya malu. “Tidak papah, kok.” Saya duduk di depannya sekaligus tidak sengaja mengelus perutku. Eki malu menyaksikan perutku. “Bu, telah berapa bulan ya?” tanyanya seterusnya sekaligus tempatkan penanya. “Menurutmu berapa bulan? Masak tidak paham?” tanyaku bermain-main menariknya.

Cersex Istri Binal – Tiba-tiba mukanya memerah. Eki lalu menunduk malu. “Ya tidak paham, bu… Kok saya bisa tahu darimanakah?” jawabnya tersipu. Tiba-tiba saya betul-betul ingin memberi tahunya, berita gembira yang semestinya dirasakan oleh bapak kandungan dari anak dalam kandunganku ini. Dengan santai saya menjawab, “Lha bapaknya masak tidak paham umur anaknya?” Eki kaget, tidak menyangka saya akan menjawab sejelas itu. Si dia langsung gelagapan, hehehe. Apa yang kau mengharap dari anak ingusan yang tiba-tiba akan menjadi bapak? Wajahnya melongo melihatku takut-takut.
Dianya tidak paham akan menjawab apa. Saya menjadi tambah ingin memikatnya. “Kamu sich bapak yang tidak bertanggungjawab. Sudah menghamili berpura-pura tidak paham kembali,” kataku sekalian melihat memikatnya. Saya mengelus-elus perutku. Geli saksikan muka Eki waktu itu. Di antara terkejut dan ragu dan hati-perasaan yang tidak dipahaminya. “Aku… eee… maaf, Bu… saya tidak tahu…” Eki mengusap keringat dingin di dahinya. “Terbuktinya kamu tidak sukai anak dalam perutku ini anakmu?” tanyaku. “Eh… saya sukai sekali, Bu.. Saya senang…” Eki sangat kalut. “Ya sudah.. jika sangat senang, sini kamu rasa pergerakannya,” kataku manja sekalian mengelus perutku.
“Bisa, Bu, saya pegang?” tanyanya cemas. “Ya, sini, kamu rasa saja. Agar anda dekat,” perutku berkesan benar-benar membuncit karena pakaian muslim yang kupakai nyaris tidak muat sembunyikan lebamnya. Eki berubah dan duduk di sebelahku. Matanya merunduk melihat ke perutku. Takut-takut tangannya ke arah perutku. Dengan tenang kupegang tangan itu dan kudaratkan ke bukit di perutku. Sebenarnya saya bohong, karena usia demikian pergerakan bayi belum berasa, tetapi Eki siapa tahu. Dengan berhati-hati dianya menempatkan telapaknya di perutku. “Maaf ya, bu,” izinnya.
Saya biarkan telapaknya melekat ketat di perutku. Dianya diam seolah-olah coba dengar apa yang telah ada dalam rahimku. Saya merasa berbahagia sekali karena agar bagaimana juga anak ingusan ini adalah bapak dari anak dalam kandunganku ini. “Kamu sukai punyai anak, Ndun?” tanyaku. “Saya sukai sekali, Bu, punyai anak dari Ibu. Ohh.. Bu, maafkan saya ya, Bu,” jawab Eki nyaris tidak terdengaran. Tangannya gemetaran di atas perutku. Eki berkesan benar-benar ketidaktahuan, tidak paham wajib melakukan perbuatan apa. Saya ikut juga kebingungan, dengan hati campur baur. Di antara berbahagia, kebingungan, geli, dan beberapa macam rasa tidak terang.
Mendadak dadaku berdebar melihat anak muda tersebut. Anak tersebut masih tetap takut-takut melihat mukaku. Kami berdua mendadak termenung tanpa tahu wajib lakukan apa. Tangan Eki termenung di atas perutku. “Ndun, bagaimana hatimu saksikan ibu-ibu yang sedang lebam-bengkak seperti saya?” tanyaku memecahkan keheningan. “Saya sukai sekali, Bu..” jawabannya. “Mengapa?” “Ibu menjadi semakin elok.” jawabannya dengan muka memeras. “Ihh.. elok darimanakah? Saya khan sudah tua, dan lagian sekarang tubuhku seperti begini..” jawabku.
Eki bawa mukanya perlahan dan melihatku malu. “Tidak kok, Bunda tetep elok banget…” jawabannya lirih. Tangannya mulai mengelus-elus perutku kembali. Saya merasa geli, yang mendadak menjadi sedikit horny. Apalagi semalam Mas Prasetyo belum meniduriku. “Kok saat itu kamu tegang ngintip saya sama Mas Prasetyo?” tanyaku manja. Mukaku memeras.
Saya sangat bergairah. Aneh , anak kecil ini juga sekarang membuatku ingin ditiduri. Apa yang keliru dengan diriku? “Saya gairah saksikan tubuh Ibu…” ini hari Eki melihat mukaku. Wajahnya merah. Terang dianya bergairah. Saya tahu sekali muka lelaki yang gairah saksikan saya. “Jika saat ini, saat masih tetap gairah ? Saya khan sudah membukit seperti begini..” Eki blingsatan. “Saat ini masih tetap iya..” jawabannya sekalian membenarkan celana. “Idiiih…. mana, lihat?” godaku.
Eki semakin berani. Tangannya gemetaran buka celananya. Dari dalam celananya tersembul keluar sebatang kontol lebih kecil dari punyai suamiku. Yang terang, kontol itu sudah benar-benar tegang. “Wah, kok sudah tegang sekali. Ingin nengok anakmu ya?” godaku. Eki sudah turunkan semua celananya. Tetapi dianya tidak paham wajib lakukan apa. Lucu saksikan tangkai kecil itu tegak melawan. Saya sudah benar-benar horny.
Tempikku sudah mulai basah. Tidak paham mengapa dapat senafsu itu dekat sama anak SMP ini. Dengan gemes saya pegang kontol Eki. “Ingin dimasukin kembali?” tanyaku gemetar. “Iya, bu.. ingin sekali!” Tanpa menunggu kembali saya meningkatkan pakaian panjangku dan mengangkangkan kakiku. Selekasnya tempikku terpajang terang di muka Eki. Rambut hitam tempikku terasanya benar-benar kontras dengan kulit putihku. Selekasnya kubimbing kontol anak itu ke lobang tempikku. Eki mengeluh perlahan, matanya terbelalak melihat kontolnya perlahan-lahan masuk ditelan oleh tempikku. “Ohhhh…. Buuu…” desisnya. Bless!! Selekasnya kontol itu masuk semuanya ke lobang tempikku.
Saya sendiri rasakan kepuasan yang aneh. Entahlah mengapa, saya benar-benar ingin isi lobangku dengan tangkai kecil tersebut. “Diemin dahulu dalam sesaat, agar kamu tidak cepat keluar,” perintahku. “I-iya, Bu..” erangnya. Eki mendangakkan kepalanya meredam kepuasan yang luar biasa untuknya. Menyengaja perlahan-lahan kuremas kontol itu dengan vaginaku, sekalian kusaksikan reaksinya. “Ohhh…” Eki mengeluh sekalian mendangak ke atas. Kubiarkan dianya rasakan kesan tersebut. Perlahan-lahan tanganku meremas bokongnya. Eki merunduk melihat mukaku di bawahnya. Perlahan-lahan dianya bisa mulai menahan diri.
Terlihat napasnya mulai cukup teratur. Kupegang leher anak itu dan kuturunkan wajahnya. Muka kami terus bersisihan. Bibirku lantas mencium bibirnya. “Hssh..” kami berdua melenguh, lantas sama-sama mengulum dan bermain lidah. Tangannya meremas dadaku. Saya rasakan kepuasan yang tidak ada tara. Selekasnya kuangkat sedikit bokongku untuk rasakan semua tangkai itu terus amblas ke tempikku. “Ndun, mari gerakin mundur-maju perlahan-lahan..” perintahku. Eki mulai memaju-mundurkan bokongnya. Kontolnya mesikipun kecil, jika sudah keras kenyataannya demikian sangat nikmat dalam tempikku. Saya mengerang-erang sekarang ini.
Tempikku sudah basah sekali. Banjir mengucur sampai ke bokongku, bahkan juga berkenaan sofa ruangan tamu. Saya arahkan tangan Eki untuk meremas-remas payudaraku kembali. Dengan berhati-hati dianya berusaha tidak berkenaan perutku karena takut akan sakiti kandunganku. Ohhh… saya sudah benar-benar bergairah! Lebih kurang 15 menit Eki memaju-mundurkan bokongnya. Saya tidak menduga dianya sekarang sekeras tersebut. Mungkin dahulu dianya cemas dan belum terlatih. Saya mendadak rasakan orgasme yang hebat. “Ohhhh…” teriakku. Badanku meliuk ke atas.
Eki termenung dengan masih tetap menanamkan kontolnya dalam lobangku. “Saya sampai, Ndunnnn…” kataku tersengal-sengal. Sekalian masih tetap biarkan kontolnya dalam tempikku, saya merengkuh pria kecil tersebut. Tubuhnya penuh keringat. Kami termenung saat lagi berepa menit sekalian berangkulan. Kontol Eki masih tetap keras dan tegang dalam tempikku. “Ndun, berpindah ke kamar yok,” ajakku. Eki menggangguk. Ditariknya penisnya dan berdiri di depanku. Saya turut berdiri gemetaran karena akibatnya karena orgasme yang menggelora baru saja. Selanjutnya saya mengajarkan tangan anak itu,
membawa ke kamarku. Dalam, saya minta dianya melepas bajuku karena cukup ribet melepaskan pakaian muslim panjang ini. Di muka pemuda itu saya sekarang ini telanjang bundar. Eki melepaskan pakaiannya. Sekarang kami berdua telanjang dan sama-sama berangkulan. Saya saksikan kontolnya masih tetap tegak mengacungkan ke atas. Saya rebahkan pemuda itu di atas kasur, lantas saya naik ke atas dan masukkan lagi kontolnya ke tempikku. Ini hari saya yang memacunya mundur-maju. Tangan Eki meremas-remas susuku. Ohh, sangat nikmat. Kontol kecil itu sangat luar biasa.
Dianya berdiri yang tegak terus tanpa mengendor sedikit juga. Saya menyengaja memutar-mutar bokongku agar kontol itu cepat muncrat. Tetapi tetap tempatnya sama. Saya kembali orgasme, bahkan juga sampai 2x kembali. Orgasme ke-3 saya sudah diterpa kecapekan yang hebat. Saya dekap pemuda itu dan kupegang kontolnya yang masih tetap tegak mengacungkan. Kami berangkulan di tengah-tengah tempat tidur yang umum kupakai bercinta dengan suamiku. “Aduuuh, Ndun.. kamu kuat ya. Kamu masih tetap belum keluar ya?” “Tidak papah, Bu…” jawabannya perlahan. Mendadak saya punyai gagasan untuk membantu Eki. Kuraih tangkai kecil itu dan kembali kumasukkan dalam tempikku. Ini hari kami sama-sama berangkulan sekalian tiduran bersisian. “Ndun, Bunda sudah capek sekali. Batangmu dibiarin saja ya dalam, sampai kamu keluar…” bisikku.
Eki menggangguk. Kami berangkulan lagi seperti sepasang pacar. Tempikku berkedut-kedut terima tangkai tersebut. Kubiarkan banjir mengucur membasahi tempikku, Eki biarkan kontolnya disimpan rapi dalam tempikku. Karena kecapekan, saya tertidur dengan sebatang kontol berada di dalam tempikku. Tidak tahu berapakah jam saya tertidur dengan kontol Eki masih tetap tertancap dalam-dalam, saat jam 1 malam mendadak hapeku terima sms. Saya tersadarkan dan melihat Eki masih tetap melihat mukaku sekalian biarkan kontolnya diam dalam lobangku. “Aduh, Ndun. Kamu tidak dapat bobok? Aduuuh, soriiii ya…” kataku sekalian meremas kontolnya dengan tempikku. “Tidak papah kok, Bu. Saya senang sekali di dalamnya..” kata Eki.
Tanpa mengganti posisi saya raih ponsel yang terdapat di atas meja samping tempat tidur. Kubuka sms, kenyataannya dari Mas Prasetyo: “Hai Say, sudah bobok? Jika belum, saya ingin telpon.” Saya selekasnya balas: “Baru terjaga, telpon saja, rindu.” Selekasnya sehabis kubalas sms, Mas Prasetyo meneleponku. Saya terima teleponnya sekalian tiduran dan biarkan kontol Eki masih tetap ada dalam tempikku. “Hei… Sorii kacaukan, sudah bobok belum?” tanyanya. “Tidak papah, Mas, rindu. Kapan jadi kembali?” tanyaku. “Lusa, Dik, ini saya masih tetap di jalan. Kembali ada pembekalan warga. Bagaimana beberapa anak?” “Hmmm…. ” saya cukup menggelinjang. Eki lebih memajukan bokongnya, takut lepas kontolnya dari lobangku.
Saya menempatkan jariku di bibirnya agar dianya tidak bernada. Eki menggangguk sekalian tersenyum. “Baik, mereka oke-oke saja kok. Sudah pada makan dan bobok pulas dari jam 9 barusan. Saya rindu, mas…” “Sama.. ingin nih,” kata suamiku. “Sini, ingin di mulut apa di bawah?” tanyaku nakal. “Mana saja bisa,” “Nih, gunakan mulutku saja. Sudah lama tidak diberi. Sudah gatel, hihi…” godaku. “Aduh, Dik. Saya kembali di daerah sepi. Justru menjadi rindu dengan kamu. Bagaimana hayooo?” rengek suamiku. Kami bisa dibuktikan biasa sama-sama terbuka masalah keperluan sex kami. “Kocok saja, Mas. Saya ingin,” kataku manja. Selanjutnya saya geser Eki agar menindih di atas badanku. Sekalian tanganku tutup ponsel, saya berbisik ke Eki, “Saat ini kamu pacu saya sekencang-kencangnya sampai keluar ya. Sekeras-kerasnya!” Eki menggangguk. Saya lantas menjawab telephone suamiku kembali, “Mari, mas,
membuka celananya..” Saya ambil cd punyaku yang berada di samping tempat tidur lantas kujejalkan ke dalam mulut Eki. Eki tahu tujuanku agar dianya tidak bernada. “Oke, Dik. Saya sudah menghunus rudalku..” Sekalian menjawab mesra, saya menekan bokong Eki agar selekasnya memaju-mundurkan kontolnya dalam tempikku. Eki selekasnya membalas dan memulai memacuku. Saya memerintahnya untuk turunkan kakinya ke samping tempat tidur menjadi perutku tidak terhimpit tubuhnya.
Sementara saya mengangkang dengan 2 kakiku terangkut ke samping kanan dan kiri tubuh pemuda abg tersebut. Ohhh, Ya Tuhan. Seperti kesetanan, Eki memacuku sama seperti yang kuperintahkan. Saya mengerang-erang, begitupun suamiku. “Mas, saya masturbasi kesetanan ini… ingin sekali! Kamu kocok kuat-kuat yaaa… ahhhhh!!” “Iyaah… oohhh, untung saya membawa cdmu, buat ngocok nih…. ohhhhh!!” erang suamiku. Tidak kalah luar biasanya, Eki terus membabat lobangku tanpa sepakat. Tubuh kurusnya mundur-maju sekencang bor listips.
Saya mengerang-erang tidak karuan. Suara lobangku berdecit-decit karena banjir dan gesekan dengan kontol Eki. Sangat edan malam hari ini. Saya sudah tak ingat kembali berapakah lama saya dipacu Eki. Suaraku penuh gairah tukar kata-kata mesra dengan suamiku. Eki seolah-olah tidak sebelumnya sempat capek. Badannya sudah banjir keringat. Stamina mudanya sangat membesarkan hati. Keringat banjiri badanku. Sementara suara suamiku meraung-raung kepuasan, mudah-mudahan kamar dianya di perjalan dinas itu kamar yang kedap suara. Sekian hari selanjutnya saya kekurangan tenaga. Kuminta Eki untuk stop sesaat. Pemuda itu terlihat tersengal-sengal setelah memacuku mati-matian.
Sehabis itu kami meneruskan permainan kami. Eki dengan kuatnya memacuku mati-matian. Saya tidak paham kembali apa yang kecerecaukan di telephone, tetapi kelihatannya suamiku sama juga. Sekian hari selanjutnya saya dan suamiku sama berteriak, kami sama keluar. Saya tersengal-sengal atur napasku. Lantas suamiku memberikan salam mesra dan kecupan jarak jauh. Kami benar-benar terpenuhi malam hari ini. Sehabis ngobrol-ngobrol singkat, suamiku tutup teleponnya.
Di kamarku, Eki masih tetap memacuku perlahan-lahan. Dianya belum keluar ternyata. Wah, edan. Saya kawatir capitanku mungkin sudah tidak mempan untuk kontolnya yang masih tetap tumbuh. Kubiarkan kontol pemuda itu mengobok-obok tempikku. Mendadak kudorong Eki, menjadi lepas kontol dari lobangku. Ohhh, lenguhnya bersedih. Lantas saya ambil dianya naik ke arah tempat tidur dan saya selekasnya menungging di depannya. Eki tahu tujuanku. Dianya selekasnya arahkan kontolnya ke tempikku. Tetapi selekasnya kupegang kontol itu dan kuarahkan ke lobang lainnya.
Bokongku! Mungkin di situlah kontol Eki akan diapit optimal, pikirku tanpa pemikiran. Eki sadar apa yang kulakukan. Disikatkannya kontolnya ke lobang bokongku. Tetapi lobang itu kenyataannya masih tetap kekecilan bahkan juga buat kontol Eki. Saya berdiri dan memerintahnya menunggu. Lantas saya turun dan ambil jelli organik dari dalam rack obat di dalam kamar mandi. Dengan setia Eki menunggu dengan kontol yang setia mengacungkan. Jelli itu kuoleskan ke semua tangkai Eki, dan beberapa kuusap-usapkan ke lebih kurang lobang bokongku.
Kembali saya menunggingkan bokongku. Eki arahkan kotolnya kembali dan perlahan-lahan lobang itu sukses diterobosnya. “Ohhhhh…” desisku. Kesannya benar-benar hebat. Perlahan-lahan tangkai kontol itu menyelusup di lobang yang sempit tersebut. “Aaughhh…” Eki mengeluh keras. 1/2 perjalanan, kontol itu stop. Baru separuh yang masuk. Eki tersengal-sengal, begitupun saya. “Perlahan-lahan, Ndun…” bisikku. Eki memegang bongkahan bokongku dan menyikatkan lagi kontolnya ke lobangku. Dan pada akhirnya semua tangkai itu masuk ke lobang bokongku.
Ohhh, Tuhan… rasanya benar-benar hebat, di antara sakit dan nikmat yang tidak terceritakan. Saya mengeluh. Kami diam beberapa saat, biarkan lobangku terlatih dengan tangkai kontol tersebut. Sehabis itu Eki mulai memaju-mundukan pinggangnya. Rasanya hebat. Pengalaman baru yang membuatku suka. Sekian hari selanjutnya, Eki mengerang-erang keras.
Dianya memaksa menggejot bokongku secara cepat, tetapi karena benar-benar sempit, pacuannya menjadi tidak dapat lancar. Selanjutnya, ohhhhhhhh… Eki memuncratkan spermanya dalam bokongku!! Crooooott… crooooott… crooooott… Saya tersuruk dan Eki telentang ke belakang. Muncratannya beberapa berkenaan punggungku. Kami sama tersengal-sengal dan diterpa kecapekan yang hebat. Saya mengubah badanku dan merengkuh Eki yang tergeletak tanpa daya. Kami berangkulan dengan telanjang bundar semalaman. Esoknya, saya bangun jam 6 pagi.
Eki masih tetap ada pada dekapanku. Oh, Tuhan. Untung saya mengamankan pintu kamar. Mbok Imah, tetangga yang umum bantuin mengurusin beberapa anak, sudah kedengar suaranya ada di belakang. Oh.. apa yang sudah kulakukan semalam? Saya sangat tidak mengerti. Jika malam saat itu sangat cuma sebuah kecelakaan. Tetapi malam hari ini, saya dan Eki sangat melakukan dengan penuh kesadaran. Apa yang kulakukan pada anak abg ini? Saya menjadi resah pikirkannya, saya takut membuat anak ini jadi anak yang keliru jalan. Perasaan bersalah itu membuatku merasa semakin bertambah sayang pada anak kecil tersebut.
Tidak lebihkul kembali badan kecil itu dan kuciumin pipinya. Badan kami masih tetap sama telanjang. Saya saksikan sang Eki masih tetap pulas tidur. Wajahnya terlihat manis sekali pagi tersebut. Saya mengecup pipi anak itu dan menggugahnya. “Ndun, bangun. Kamu sekolah khan?” bisikku. Eki terlihat terkejut dan selekasnya duduk. “Oh, Bu.. maaf, saya kesiangan.” ucapnya grogi. “Tidak papah, Ndun, saya yang keliru ajakmu semalam.” Kami berpandangan. “Maaf, Bu. Saya sangat tidak santun,” “Lho, khan bukan kamu yang mengundang kami tidur bersama-sama.
Saya yang keliru, Ndun.” bisikku perlahan. Eki melihatku, “Saya sayang sama Ibu…” ucapnya perlahan. “Ndun, kamu punyai kekasih?” “Belum, bu,” “Kamu janji ya jangan beberapa cerita ke siapa saja masalah kita,” “Iya, bu, tidak mungkinlah,” “Saya takut kamu rusak karena saya,” “Tidak kok, Bu. Saya sayang sama Ibu.” “Kamu jangan lakukan ini ke sembarangan orang ya,” kataku cemas. “Tidak, Bu, saya bukan cowok semacam itu. Tetapi jika sama Ibu, masih tetap bisa kan?” ucapnya perlahan. Mendadak saya benar-benar ingin merengkuh anak ini. “Saya sayang kamu, Ndun. Sini Bunda dekap.” Eki merapat dan kami berangkulan sekalian berdiri.
Tangannya merengkuh pinggangku dan saya menggenggam bokongnya. Kami berangkulan lama dan sama-sama berpandangan. Lantas bibir kami sama-sama berpagutan. Edan, saya sangat terasanya pacaran dengan anak kecil ini. Mulut kami sama-sama bergumul dengan panasnya. Saya saksikan kontol anak itu masih tetap tegak berdiri, mungkin karena dampak pagi hari. Tanganku raih tangkai itu dan mengocaknya perlahan-lahan. Saya berpikiran cepat, karena pagi hari ini Eki wajib sekolah, saya wajib selekasnya menyelesaikan kemelut kontol tersebut. Karena itu saya selekasnya mengubah badanku dan berpegangan di meja dandan.
Sekalian melihat Eki melalui cermin, saya memerintahnya, “Ndun, kamu gunakan cermat itu kembali. Cepat masukkan kembali kontolmu ke bokong Ibu.” Eki cepat-cepat memulasi batangnya. Saya menyorongkan bongkahan bokongku. Dari cermin saya dapat melihat muka dan tubuhku sendiri. Ohh… cukup malu saya melihat badanku yang mulai membesar di mana-mana, tetapi masih tetap sarat dengan gairah birahi. “Cepat, Ndun, nantinya kamu terlambat sekolah,” perintahku. Sekalian merengkuh perutku, Eki menggerakkan kontolnya masuk ke dalam lobang bokongku. Lobang yang tadi malam sudah disikat-sodok itu selekasnya terima tangkai yang mengeras tersebut. Selekasnya kami sudah lakukan persetubuhan kembali.
Saya dapat melihat episode seksi itu melalui cermin, di mana mukaku berkesan benar-benar bergairah dan muka Eki yang mengerang-erang di belakangku. “Mari, Ndun, sikat yang kuat!” “I-iya, Bu..” “Terusss… bisa lebih cepat!” Sikatan-sodokan Eki terus semangat. Lobang bokongku terus plastis terima tangkai imutnya. Benar-benar kepuasan yang hebat. Sesaat kemudian kami berdua sama capai pucuk kepuasan. Eki biarkan cairan spermanya melaju deras dalam bokongku. Kami sama tersengal-sengal nikmati pucuk yang baru saja kami daki.
“Ohhh…” Sesaat selanjutnya saya bebaskan bokongku dari kontolnya. “Sudah, Ndun. Sana kamu mandi, pulang. Nantinya kamu terlambat lho sekolahnya,” kataku sekalian tersenyum. Eki mencari bajunya. Mendadak kami sadar jika celana Eki berada di ruangan tamu. Saya suruh sang Eki tunggu di dalam kamar, sedangkan saya selekasnya kenakan pakaian dan keluar ke ruangan tamu. Semoga tidak ada yang temukan celana tersebut. Untungnya celana itu teronggok di bawah sofa dan tersisip menjadi Mbok Imah yang umumnya repot dahulu mempersiapkan makan pagi belum memselesaikan ruangan tamu. Celana itu selekasnya kuambil dan kubawa ke kamar.
Sang Eki yang semula terlihat cemas, sekarang ini berbeda tenang. Sehabis menggunakan celananya, Eki kusuruh segera keluar ke ruangan tamu dan ambil tas belajarnya yang tadi malam terkapar di atas meja. Sehabis itu dianya pamit pulang. Saya sendiri selekasnya mandi. Di dalam kamar mandi saya rasakan sedikit perih di tahapan lobang bokongku. Baru ini hari lobang itu jadi alat sex, itu juga malah dengan anak kecil yang belum mengetahui apapun. Sedikit ada rasa sesal, tetapi selekasnya kuguyur kepalaku untuk hapus rasa resah di dadaku. Sorenya Eki kembali bermain ke rumah.
Dianya sudah repot memselesaikan beberapa buku di gazebo kami. Malam itu Eki tidur kembali di kamarku. Mas Prasetyo baru pulang keesokannya. Saat lagi beberapa jam kami bercinta lagi. Kami sama-sama berangkulan dan sharing kasih semestinya sepasang pacar. Tetapi saat sebelum jam 1, saya suruh Eki agar selekasnya tidur. Saya cemas sekolahnya akan terusik karena kegiatanku. “Ndun, barusan kamu di sekolah bagaimana?” bisikku sehabis kami usai ronde ke tiga.
Kami berangkulan dengan mesra di tengah-tengah tempat tidur. “Biasa saja, Bu.” “Kamu tidak kecapekan alias mengantuk di sekolah?” “Iya, Bu, sedikit. Tetapi tidak papah, saya barusan sebelumnya sempat tidur siang.” “Saya takut mengganggu sekolahmu,” “Tidak kok, Bu. Barusan saya dapat ng ikutin pelajaran,” “Okelah jika begitu. Tetapi sehabis ini kamu tidur ya, tidak perlu diterusin dahulu.” “Iya, Bu.” “Esok Mas Prasetyo pulang, kamu tidak dapat nginap di sini,” “Iya, Bu. Tetapi kapan-kapan saya siap temani Bunda di sini,” “Yee…. penginnya.
Ya, tidak papah,” kataku sekalian mencubit pinggangnya. “Saya ingin menjadi kekasih Ibu,” “Lho, saya khan sudah bersuami?” “Ya tidak papah, menjadi apa dech,” “Saya malah kasihan dengan kamu. Besok-besok jika kamu sudah siap, kamu mencari kekasih yang benar ya?” “Iya, Bu. Saya masih tetap sayang sama Ibu. Ingin dijadiin apa ingin,” “Aduhh.. ya sudah, bobok yok!” kataku kecapekan. Kami tidur berangkulan sampai pagi. Sehabis malam itu, saya terus seringkali bercinta dengan Eki. Kapan saja ada kesempatan, kami berdua akan melakukan.
Eki benar-benar memerhatikan bayi dalam kandunganku. Tiap ada kesempatan, dianya menciumi perutku dan mengelus-elusnya. Kasihan saya saksikan anak kecil itu sudah merasa wajib menjadi bapak. Bingungnya, saya ketagihan dengan kontol kecil anak ini. Walau sebenarnya saya sudah mempunyai kontol yang lebih besar dan ada bagiku. Pikirkan, berbeda umurku dengan Eki mungkin lebih kurang 27 tahun.
Bahkan juga anak itu semakin lebih pas jadi adik beberapa anakku. Tetapi jalinan kami semakin bertambah mesra bersamaan umur kehamilanku yang tetap jadi membesar. Eki bahkan juga seringkali turut temaniku ke dokter ketika suamiku sedang dinas keluar. Eki terus perhatian padaku dan anak dalam kandunganku. Kami benar-benar berbahagia karena bayi dalam kandunganku ada pada keadaan sehat. Saya teratur mengingati Eki untuk selalu konsentrasi pada sekolahnya, dan jangan terlampau pikirkan anaknya. Yang sekurang-kurangnya dapat dihindari adalah, Eki terus lama terus ketagihan lobang bokongku.
Semakin lama saya rasakan faktor yang masih sama. Seolah-olah lobang bokongku jadi terbatas punya Eki, sedangkan lobang-lobangku lainnya dipisah di antara Eki dan suamiku. Sampai saat ini, suamiku tidak sebelumnya sempat tahu jika bokongku sudah dibobol oleh Eki. Semakin lama saya cemas dengan narasi berkenaan jalinan kelamin melalui bokong dapat munculkan sejumlah penyakit, termasuk AIDS. Saya pada akhirnya sediakan kondom untuk Eki jika dianya meminta lobang bokongku.
Eki sich oke-oke saja. Dianya cemas, mesikipun dianya benar-benar berbahagia saat masuk ke dalam lubang bokongku. Untung saya dan suamiku terkadang menggunakan kondom, menjadi saya tidak canggung kembali beli kondom di apotek. Bahkan juga saya seringkali mendapatkan kondom gratis dari kelurahan. Mungkin karena masih tetap saat perkembangan dan seringkali kupakai, saya melihat lama-lama kontol Eki alami pembesaran. Kontol yang tetap eksper itu tak lagi seperti kontol imut di saat pertama kalinya masuk ke dalam tempikku, tetapi sudah berubah jadi kontol dewasa dan berurat saat tegang.
Saya sadar, jika saya adalah salah satunya karena dari perkembangan instan dari kontol Eki. Kemampuan kontolnya terus hebat. Dianya tak lagi mudah keluar, bahkan juga jika dipikirkan, dianya mungkin semakin kuat dari suamiku. Karena perutku terus jadi membesar, saya menjadi seringkali menggunakan celana legging yang lentur dan pakaian kaos ketat dengan bahannya benar-benar lentur. Jika di dalam rumah saya bahkan juga cuma gunakan kaos panjang tanpa bawahan. Orang tentu menduga saya teratur gunakan cd, walau sebenarnya seringkali saya malas menggunakannya.
Entahlah karena bawaan bunda hamil alias karena gairah birahiku yang tetap edan. Waktu bunda Eki ingin naik haji, saya turut repot dengan ibu-ibu daerah untuk menyiapkan pengajian haji. Biasa sajalah, jika ingin naik haji tentu hebohnya meminta ampun. Saya termasuk dekat sama bunda Eki. Namanya bu Masuroh, yang umum diundang Bu Ro. Karena keluarga Eki termasuk keluarga yang terpandang di dusun kami, karena itu jadwal pengajian itu jadi jadwal yang besar. Cukup banyak ibu-ibu yang turut repot di dalam rumah Bu Ro. Jika saya ke situ saya lebih seringkali karena ingin bertemu Eki.
Jadwal pengajian dan kedatangan Mas Prasetyo di dalam rumah membuat kesempatanku bertemu dengan Eki jadi benar-benar terbatas. Sudah lama Eki tidak merasa kan lobang bokongku. Saya sendiri ragu bagaimana cari kesempatan untuk bertemu Eki. Mesikipun saya seringkali pergi ke tempat tinggalnya dan terkadang diantarkan Eki untuk belanja suatu hal untuk keperluan pengajian, tetapi tetap kami tidak punyai kesempatan untuk bercinta.
Pada akhirnya di saat pengajian besar itu saya mendapat gagasan. Sorenya, selekasnya kutelepon Eki menggunakan telephone rumah, karena saya benar-benar berhati-hati menggunakan ponsel, apalagi untuk masalah Eki. “Assalamu’alaikum, Bu. Ini Bu Veronika. Bagaimana Bu penyiapan nantinya malam, sudah usai semua?” “Oh, Bu Veronika. Sudah Bu. Nantinya hadirnya cukup sorean ya, bu. Jika tidak ada Ibu, kami ragu nih,” jawab Bu Ro. “Iya, usai, Bu. Saya sama Bu Anjar sudah janjian sehabis maghrib langsung kesitu.
Eki ada, Bu Ro?” “Ada, Bu, sesaat ya,” Sehabis Eki yang menggenggam telephone, saya selekasnya katakan: “Ndun, nantinya malam kamu pakai celana yang dapat dibuka depannya ya,” kataku perlahan. “Iya, Bu,” jawab Eki cukup kebingungan. “Terus kamu gunakan kondom kamu…” Eki menggangguk kembali, dan telephone selekasnya kututup. Malam itu pengajian diadakan besar. Halaman RW kami yang luas nyaris tidak dapat memuat jama’ah yang tiba dari segala penjuru kota. Bu Ro bisa dibuktikan figur yang dihormati warga. Saya tiba bersama ibu-ibu RT.
Saya menggunakan kudung, dengan pakaian atasan kendur yang tutup sampai bawah pinggang. Bawahannya saya menggunakan legging ketat, karena bisa dibuktikan kembali biasa
Sehabis semua masalah kepanitiaan usai, saya selekasnya gabung dengan ibu-ibu jama’ah pengajian. Tetapi selanjutnya saya dan sejumlah bunda lainnya berpindah ke halaman, karena lebih bebas dan dapat berdiri. Namun halaman itu sudah benar-benar penuh dan berdesakan. Malah saya pilih lokasi yang paling penuh pengunjung. Dari kejauhan saya melihat Eki dan memberikannya code untuk meng ikutiku. Eki bergerak ke arah arahku, sedangkan saya mengundang Bu Anjar untuk ke sebuah lokasi di bawah pohon di atas lapangan RW.
Lokasi itu cukup gelap karena bayang-bayang lampu tertutup rindangnya pohon. Mesikipun begitu, cukup banyak anak buah jama’ah di sana yang berdiri berdesakan. “Kita sini saja, Bu, jika Bunda ingin. Tetapi jika bunda berkeberatan, silahkan Bunda berpindah ke situ,” kataku pada Bu Anjar. “Tidak papah, Bu, di sini lebih bebas. Dapat absen jika sudah kemaleman, hihihi..” kata Bu Anjar. “Iya, ya. Umumnya pengajian ginian dapat sampai jam 12 lho,” Kami lantas terlibat percakapan dengan hebat sekalian dengarkan pengajian. Kenyataannya di samping Bu Anjar adan Bu Kesti yang juara negrumpi. Kami selekasnya terturut perbincangan serius sekalian sesekali dengarkan khotbah jika cocok ada beberapa cerita lucu.
Kami berdiri cukup pada barisan tengah, Bu Anjar dan Bu Kesti mendapat tempat duduk di sebelahku. “Bu, monggo jika ingin duduk,” tawarnya padaku. “Wah, tidak perlu, Bu. Saya lebih sukai berdiri begini saja,” jawabku. Walau sebenarnya saya sedang menunggu Eki yang berusaha menguak keramaian ke arah kami. Pada akhirnya Eki datang di belakangku. Dua ibu-ibu sebelahku tidak memerhatikan kedatangan Eki, tetapi saya melihat anak muda itu dan memerintahnya berdiri pas di belakangku.
Saya berubah berdiri sedikit ada di belakang kursi Bu Anjar dan Bu Kesti. Sementara Eki dengan selekasnya berdiri pas di belakangku. Dengan sembunyi-sembunyi saya tempelkan bokongku ke tubuh Eki. Eki tersenyum dan lebih memajukan tubuhnya. Bokongku yang semlohai selekasnya melekat pada kontol Eki yang sudah tegang dibalik celananya. Saya berbisik pada Eki, “Membuka, Ndun. Sudah gunakan kondom?” Eki menggangguk dan buka risliting celananya. Selekasnya tersembul batangnya yang sudah mengeras.
Selekasnya kusibakkan pakaian panjangku ke atas dan nampaklah leggingku sudah kuberi lobang di tahapan belahan bokong. Eki terlihat kaget, dan sekalian memahami tujuanku. Dengan perlahan-lahan ditujukannya tangkai kerasnya ke lobang bokongku. Dan, slepppp… masuk tangkai itu ke lobang kesukaannya. Tangan Eki masuk ke pakaian kurungku sekalian mengelus-elus perutku.
Batangnya ada dalam lobangku sekalian kadang-kadang dimaju-mundurkan. Kami bercinta di tengah-tengah keramaian dengan tidak ada yang mengetahui. Mesikipun demikian saya masih tetap terlibat percakapan dengan 2 ibu-ibu tetanggaku, sedangkan di kiri kanan kami beberapa orang repot dengarkan khotbah secara berdesakan. Lebih kurang satu jam Eki merengkuhku dalam gelap dari belakang. Mendadak tempikku berkedut-kedut, ingin turut disikat. Jika dari belakang bermakna saya wajib lebih merunduk . Perlahan-lahan kutarik keluar kontol Eki dan kulepas kondomnya.
Saya mengarahkannya lagi, ini hari ke lubang tempikku. Eki memahami. Lantas, bless… dengan lancarnya kontol itu masuk ke dalam tempikku dari belakang. Ohh, sedap sekali. Saya mulai tidak fokus ke khotbah atau diskusi dua ibu-ibu tersebut. Karena cuma kadang-kadang kami bergoyang, karena itu episode persetubuhan itu jalan cukup lama. Kepalaku sudah mulai berkunang-kunang penuh kepuasan.
Sekian hari selanjutnya, saya alami orgasme luar biasa, tanganku gemetaran dan secara langsung menggenggam sandaran kursi di depanku. Eki selanjutnya memuncratkan maninya dalam tempikku. Kami berdua nyaris bersama alami orgasme tersebut. Sehabis cukup surut, saya menggerakkan Eki dan keluarkan kontolnya. Segera Eki masukkan lagi ke celana, dan kuturunkan pakaian tahapan belakangku. Saya dan ibu-ibu itu memilih untuk pulang saat sebelum jadwal usai. Untung saja saya dan Eki sudah usai. Dengan mengedipkan mata, saya memerintah Eki untuk tinggalkan lokasi. Pada akhirnya terpenuhi keinginan kami sehabis beberapa hari yang repot yang memisah kami.
