Cerita Sex Berlibur Membawa Kenikmatan Dapat Berhubungan Dengan Orang Bule yang Kegembirakan

Ia memang bule, telah lumayan lama bekerja di Indonesia hingga cukup pintar menggunakan bahasa Indonenesia. Awalannya kami chating tukar pengalaman hingga kemudian kami tidak senang dan berjumpa langsung. Ia memiliki cerita, yang ucapnya lumayan menarik bila diuraikan. Dia meminta kontribusi saya tuliskan ceritanya dengan bahasa Indonesia.

Cersex Istri Binal –  memang lumayan hebat, dan rasanya mustahil terjadi di Indonesia. Kebudayaan barat yang begitu terbuka, hingga peristiwa yang diceritakan itu tidak dapat terjadi di Indonesia.bila kurang menyenangi permasalahan jalinan seks dalam keluarga dan mengikutsertakan jalinan anak di bawah usia. Karena itu anda tidak butuh mencemooh cerita pembaca saya ini bila memang anda tidak bisa terima realita incest dan child seks.

Saya kenalkan ini ialah Jack Smith, pria pada usia 40an mendekati 50 tahun. Seperti bule umumnya ia terlihat cukup tampan, tubuhnya atletis dengan tinggi nyaris 180 cm. Ia beristrikan Sue berbeda dua tahun lebih muda, sisa rekan kuliahnya dahulu. Mereka mempunyai 3 anak wanita masing-masing Mindy (10 tahun), Polly (delapan tahun) dan Suzi ( lima tahun). Anda sebaiknya tidak usaha mengingat umur mereka, karena dalam narasi seterusnya saya akan memberikan umur mereka kembali.

ini terjadi saat mereka masih ada di negara sisi Indiana, AS, sekian tahun lalu. Smith dan Sue ialah orangtua yang bekerja, Smith bekerja pada perusahaan asuransi dan Sue di perusahaan real estate.
Ia mengawali menceritakan. Terang-terangan kami bukan keluarga yang normal seperti umumnya yang kelihatan di Indonesia atau di Amerika. Kami punyai kehidupan seks yang mungkin terlalu berlebih bila dibanding keluarga normal. Kehidupan seks saya dan Sue benar-benar bebas. Kami kerap gabung dalam acara pesta sama-sama rekan universitas, minum-minum bahkan juga kami sampai telanjang dan sama-sama lakukan jalinan seks. Saya juga pengikut seks ganti pasangan. Untuk kami itu ialah macam dari fantasi seks kami.

Tetapi semenjak berumah-tangga, apalagi mulai punyai anak kehidupan itu kami stop. Mungkin jemu atau karena begitu banyak waktu tersita untuk tugas dan bergabung bersama keluarga.
Pada sebuah hari pada musim panas, saat mendekati akhir minggu Sue menyampaikan ide yang menurutku cukup menarik. Ia ajak kami satu keluarga untuk nikmati berlibur di nudist resor yang tidak jauh dari rumah kami. Sekitaran 2 jam lah berkendaraan. Menurut Sue ia mendapatkan banyak narasi dari beberapa temannya jika rekreasi di nudist resor benar-benar menggembirakan.

Seperti biasanya keluarga normal, saya kerap memandikan beberapa anak menolong Sue. Tapi sesudah mereka tumbuh besar mereka memutuskan untuk mandi sendiri dan kenakan pakaiannya sendiri . Maka saya tak lagi menyaksikan perubahan badan mereka dengan utuh semenjak mereka semakin bertambah besar.

Sang pertama Mindy dalam umurnya sepuluh tahun kelihatan mulai berkembang jadi gadis remaja. Tubuhnya kelihatan mulai tumbuh dengan bokongnya semakin montok dan payudaranya mulai menyembul dibalik pakaiannya. Sementara Polly dan Suzi masih seperti beberapa anak seusia mereka yang masih belum berkembang lemak-lemak badannya.
Saat sebelum saya menjawab kemauan Sue, saya menjadi memikirkan akan menyaksikan beberapa anakku telanjang. Keliatannya sesuatu budaya transparansi yang menggembirakan. Saya pada akhirnya menyepakati dan saat Sue umumkan ke beberapa anak, mereka juga benar-benar tidak berkeberatan.

Jumat pagi saya mengepaki beberapa barang yang hendak kami pakai di kamp nudist. Beberapa anak terlihat ria sekali akan nikmati berlibur. Saya menanyakan dalam hati, apa mereka tidak malu bila harus telanjang di tempat public. Walau sebenarnya mereka sejauh ini sembunyikan badannya dengan memutuskan untuk mandi dan kenakan pakaian sendiri.

Aneh . Berikut diantaranya yang menggerakkan saya untuk coba berlibur nudis.
Sesampai pada pintu gerbang tempat nudis, kami disongsong dengan seorang wanita berumur sekitaran 40 -50 tahun. Ia kenakan pakaian komplet, menjumpai kami dan memberikan sedikit briefing berkenaan do and don’t di daerah nudis. Walau kenakan pakaian tetapi saya dapat menginterpasikan jika ia menggendong susu besar sekali dan pantatnya gendut. Setiap ia bergerak, susunya bergerak, gundal-gandul. Saya berulang-kali melihat panorama itu, sampai Sue menyikut saya dan mengingatkan supaya jangan terlampau melihat demikian.

Ia memperlihatkan tempat mobil kami diparkirkan. Kami mendapatkan pemondokan dalam suatu kabin yang cukup luas, tapi tidak ada kamar . Maka ada 2 tempat tidur besar dalam kamar tersebut. Ada dapur dan kamar mandi kecil. Sekeluarnya kami dari kabin ini telah diwajibkan bugil.

Disekitaran tempat parkir mulai kelihatan hilir mudik orang telanjang dengan rileksnya. Saya sebelumnya sempat terkesima menyaksikan sejumlah gadis elok lewat pada kondisi bugil. Sue mengejek saya , supaya saya jangan terlampau melihat gadis-gadis tersebut. Mengakibatkan bisa membuat malu, karena saat harus telanjang kelak penis saya berdiri. Saya berpikir betul . Pada akhirnya saya berusaha menetralisir pikiran saya dan memulai buka pakaian saya.
Saya saksikan Sue justru bisa lebih cepat bugil. Beberapa anak melakukan tanpa sangsi. Saya justru paling terakhir bertelanjang.

Saya sebelumnya sempat berkesan oleh perkembangan beberapa anak. Mindy kelihatan mulai berkembang, teteknya mulai membesar dengan putting susu yang tetap kecil, tapi di kemaluannya tidak ada jembut walau terlihat lebih cembung. Polly ternyata mulai ada pertanda akan tumbuh. Wilayah sekitar putingnya cukup mencembung, tapi memeknya masih seperti memek anak kecil. Jika Suzi masih seperti beberapa anak kecil, karena baik susunya atau memeknya belum kelihatan ada perubahan.

Sesudah kami semua bugil, bersama ke arah kolam renang. Di situ semua bugil, ada yang tua ada yang muda, gemuk kurus, ada yang penisnya lumayan besar, ada juga yang cuma kuncup kecil. Tetapi mereka keliatannya cuek. Saya sendiri cukup senang dengan penisku yang bila menegang penuh dapat capai panjang 20 cm . Maka walau pada kondisi tidur, performanya tidak malu-maluin. Ini yang membuat saya tidak kurang percaya diri saat Sue menyampaikan ide berlibur di camp bugil.

Camp nudis lumayan luas dengan kolam renang besar masing-masing di tempat terbuka dan tempat tertutup. Ada danau yang cukup jernih walaupun tidak begitu luas. Sarana olahraga cukup komplet. Ada pula restaurant. Semua petugas ikut juga telanjang.

Ketentuan di camp itu diantaranya ialah jangan lakukan jalinan suami istri pada tempat terbuka. Karena pada tempat itu terdapat banyak beberapa anak yang tetap di bawah usia. Saya berpikir ketentuan ini cukup lumrah, karena bugil, tak berarti bebas ngentot.

Selainnya sarana yang saya sebut barusan ada juga seperti rimba yang lumayan luas tetapi terawat. Disiapkan jalan setapak dan sejumlah tempat istirahat dalam rimba tersebut.
Sepanjang hari kami bersukaria nikmati beragam sarana disana. Dan yang paling menggembirakan kami dapat berjemur hingga warna kulit kami jadi lebih gelap dan rata.
Sekalian berjemur saya nikmati panorama tertelanjangan yang hilir mudik. Betul kata Sue berlibur di kamp nudis memang berlibur yang keseluruhan dan menggembirakan.

Beberapa anak keliatannya juga nikmati. Mereka secara gampang mendapatkan rekan seusia mereka.
Di waktu malam datang dan saat nya kami istirahat, saya tidur bersama Sue di satu tempat tidur, sedang beberapa anak gabung pada sebuah tempat tidur yang lumayan lebar. Tempat tidur kami cuma tertaut jarak kurang dari 1 mtr..
Semua lampu dimatikan hingga kabin menjadi gelap pekat. Kami semua tidur pada kondisi telanjang. Udara kebenaran cukup hangat hingga tanpa selimutpun rasanya masih nyaman tidur tanpa baju.
Di awal lampu dimatikan, kabin berasa gelap pekat. Saya tidak bisa menyaksikan ke arah tempat tidur beberapa anak. Saya pikir mereka juga tidak dapat menyaksikan kami.

Seperti umumnya, Sue yang gairah sexnya lumayan besar mulai menggerayangi penis saya. Penis sebesar anak kucing itu perlahan-lahan mulai bangun. Saya bisikkan ke Sue jika ada beberapa anak di samping. Ia menjawab jika dalam kegelapan tidak kelihatan.

Dasar rangsangan mulai naik, sayapun menjadi tidak peduli dan memang betul kata Sue jika aktivitas kami tidak akan kelihatan oleh beberapa anak.
Sue mulai mengulum penis saya. Istriku ini bisa disebut patut mendapatkan gelar master dalam kepiawaiannya mengulum. Saya menjadi benar-benar terangsang sekali. Pada kondisi itu berasa saya bisa mulai menyaksikan remang-remang dalam kabin, Minimal saya dapat menyaksikan beberapa anakku sedang tidur. Mereka berjajar, dari yang paling depan, Polly, Suzi dan Mindy di tepi sana.

Sue ternyata semakin hot, hingga ia meminta posisi 69. Sue ada di atas saya hingga saya cukup bebas mejilati memeknya. Penis saya telah mengangkat keras sekali dan saya dapat menyaksikan seperti tiang jembatan menyokong mulut Sue yang masuk keluar.

Sue mengganti posisi, ia masukkan penis saya ke saat memeknya yang telah berlendir. Sekalian merebahkan badannya ia mulai lakukan pergerakan turun naik dan mundur-maju. Sue ialah type cewek yang bising bila lakukan jalinan. Desisan dan lenguhannya seperti tidak dapat ia kontrol. Saya menjadi cemas, karena ini akan mengganggu beberapa anak. Tetapi keliatannya Sue tidak perduli walau seringkali telah kuingatkan.

Aku juga cukup turun kesadarannya karena memek Sue rasanya menjepit sekali. Sue semakin hot mendekati ia capai orgasme dan pada akhirnya ia melenguh panjang. Untuk kurangi suaranya saya mau tak mau membungkam mulutnya dengan mulutku. Tetapi sesaat saja Sue melepas dan ia melenguh lagi.
Saya menjadi ingat beberapa anak, kusaksikan samar-samar Mindy memerhatikan permainan kami. Ini kubisikkan ke Sue, tetapi nampaknya ia tidak peduli. Ia justru minta saya ada di atasnya untuk melanjutkan permainan.

Sayapun telah merasa nikmat dan tanggung, saya meng ikuti tekadnya dan memulai memacunya dengan pergerakan kasar. Sue justru semakin bising dengan ucapkan fuck me harder berkali kali. Saya menjadi kepancing melakukan dengan pergerakan cepat hingga kemudian kami capai orgasme bersama.
Pada kondisi senang mataku menjadi terlihat semakin riil menyaksikan kabin sekitar. Saya sebelumnya sempat tangkap Mindy beralih dari kami. Rupanya rekonsilasi mata telah prima dalam kegelapan hingga ruang kabin tidak berasa gelap pekat kembali, tapi telah remang-remang.
Kami jatuh tertidur sampai pagi.

Saat pagi hari kami bangun, beberapa anak tidak kelihatan canggung mereka kelihatan tidak mengagumkan tahu aktivitas kami malam tersebut. Saya sedikit tenang, karena mereka berceloteh lagi seperti bagaimana biasanya beberapa anak.
Hari ke-2 , saya dan Sue sesudah senang berenang kami berdua berkemauan menelusuri rimba. Keliatannya tempatnya nyaman. Kami lumayan jauh jalan sampai tak lagi temukan seorang juga. Sue mulai kambuh.muncul kembali. Ia merayu saya untuk lakukan permainan di alam bebas. Kami cari lokasi yang nyaman dan mulai lakukan aktivitas sama-sama menggairahkan hingga kemudian lakukan jalinan di alam terbuka.

Rasanya memang agak lain dan ada rasa lepas dari semua kekangan. Saya tangkap ada mata yang mengincar kami. Saya sebetulnya sejak awal kali telah tangkap bayang-bayang sang pengintai. Tapi pada kondisi terangsang dan nikmat saya acuhkan saja. Toh sang pengintip akan teraniaya sendiri. Kelebatan sang pengintip itu saya tangkap seperti figur Mindy. Saya terheran sesaat, tetapi karena ia berakhir pada akhirnya saya acuhkan saja.

Saat hal tersebut lusuhpaikan ke Sue ia juga tidak begitu menyikapi. Bahkan juga ia mendakwaku salah menyaksikan.
Malamnya di kabin saya dan Sue lakukan ritus kembali, dan Mindy menyaksikan lagi aktivitas kami dari sejak awalnya sampai akhir. Saya awalnya cemas, tapi karena Sue cuek saja, aku juga menjadi turut cuek. Saya justru malam itu tangkap pergerakan jika Mindy kelihatannya lakukan masturbasi saat kami melakukan jalinan.

Minggu siang kami kembali lagi ke rumah. Diperjalanan, entahlah angin apa Sue kambuh.muncul kembali. Ia tarik tanganku supaya mengobok-bok memeknya. Pada akhirnya ia kelojotan sendiri. Tetapi itu tidak usai, Sue justru tidur dipangkuan saya dan berusaha buka resleting. Batangku dikeluarkan dan ia mulai mengoral. Saya sekalian menyopir sudah pasti cemas aktivitas kami diketahui beberapa anak. Kusaksikan Polly dan Suzi tertidur di kursi ke-2 , sedang Mindy dibangku baris ke-3 . Saya menyaksikan di kaca spion dalam jika Mindy kelihatannya kembali masturbasi.
Saya bingung menyaksikan tingkah laku Sue yang tidak perduli aktivitas sexnya disaksikan beberapa anak. Ia selalu menolak jika mereka belum memahami.

Kami pada akhirnya sepanjang musim panas tiap minggu habiskan waktu di kamp nudis. Saya mengakui jika berlibur di sana benar-benar sangat menggembirakan. Disamping itu saya mulai memerhatikan badan remaja-remaja abg yang baru tumbuh. Mereka terlihat sangat indah dengan tetek kecil yang kenyal, putting kecil dan terkadang ada jembut sedikit, atau justru terkadang gundul. Ada yang susunya sudah mulai lumayan besar, tetapi memeknya belum berjembut. Ada juga yang kebalikannya, jembutnya sudah banyak mulai, tapi susunya belum tumbuh prima jadi membesar.
Sebelumnya saya benar-benar tidak tertarik sama ABG, tapi semenjak Sue ajak ke kamp nudis saya menjadi berbeda pikiran. Menurutku anak remaja yang baru tumbuh ialah bentuk yang paling indah dari wanita.

Sehari setelah musim panas habis, saya melalui kamar Mindy. Dari pintu yang cukup terbuka saya tangkap panorama ia tidur telanjang belum tertutup selimut. Selangkangan Mindy pas menghadap pintu. Saya sebelumnya sempat terheran dan berakhir. Tapi pikiranku menjadi tertarik untuk menyaksikan lebih dekat. Kebenaran situasi sepi, di mana beberapa anak semuanya sudah tertidur, sedangkan Sue telah mendengkur dari barusan. Mahfum sudah jam 2 malam.

Saya putuskan kembali menyaksikan lagi panorama dari Mindy. Dadaku berdegub dan kacau di antara hal yang larang dan yang menggerakkan rasa ingin ketahui. Penisku perlahan-lahan mulai mengeras.
Aku juga pada akhirnya mengikuti rasa ingin ketahui dan masuk ke dalam kamar Mindy. Kuperhatikan secara cermat dimulai dari sisi dadanya sampai selangkangan

Saya memerhatikan dari jarak dekat memek anak pertamaku yang baru 10 mendekati ulang tahun ke sebelas bulan kedepan mulai sedikit ada rambut lembut disekitaran gundukan mentulnya. Bibirnya gendut dan belahannya rapat. Saya menjadi ingin menyaksikan lebih jauh. Perlahan-lahan ku membuka belahan memeknya. Kelihatan didalamnya merah dan lubangnya kecil sekali. Saya tidak percaya anak usia begitu dapat ditiduri karena lubang vaginanya tetap kekecilan.

Aku juga tergerak menyaksikan susunya. Mindy keliatannya masih nyenyak tertidur. Susunya memang mulai membesar dengan pentil yang tetap kecil. Saya menjadi terdorong sekedar untuk menjilat pentil yang kecil tersebut. Pikiranku kacau kembali jika ini ialah darah dagingku sendiri, dan tindakan ini bisa memenjarakan saya lumayan lama. Tetapi rasa ingin tahu dan gairah pada akhirnya menaklukkan semua peringatan tersebut.

Kujilat barang satu 2x, Kesannya memang hebat. Dari sana saya justru ingin lebih jauh, ingin menjilat memek Mindy. Pikiranku tidak karuan di antara larang dan gairah.
Saya lantas turun dan perlahan-lahan lidahku mulai sapu memek. Mungkin saya kurang kontrol karena kobaran gairahku sampai akihrnya Mindy terjaga saya tidak mengetahuinya. Saya baru terkejut saat Mindy menjelaskan, ” Aduh Pa sedap sekali Pa terus pa.”

Meskipu saya terkejut, tetapi kata-kata anakku itu membuat saya semakin edan. Saya mulai atur posisi yang semakin nyaman dan memulai lidahku menelusuri sisi saat memek anakku. Itilnya mulai mencolok dan jadi target jilatanku. Saya terus menjilat-jilatinya hingga kemudian ia orgasme dengan melafalkanng.
Saya selesaikan mengerjai anakku sendiri dan secara berjingkat saya kembali lagi ke kamar. Kontolku yang telah keras membatu pada akhirnya saya alirkan ke Sue. Ia sich kapan pun dikerjai, ok-ok saja, walaupun di tengah-tengah kelelapan tidurnya.

Saya dengan Mindy selanjutnya kerap lakukan, bila ada peluang. Bukan saya yang berkemauan, tapi Mindy kerap ajakku. Ia keliatannya benar-benar sangat menyenangi memeknya saya jilati sampai ia orgasme. Ia juga selanjutnya mulai saya ajari untuk mengoral penisku. Mulutnya kekecilan untuk penisku yang lebih besar ini, menjadi ia tidak dapat menyantapnya. Tetapi dijilati ia semakin lama saya dapat ejakulasi .

Untungnya sejauh ini permainan ku bersama Mindy sebelumnya tidak pernah ketahuan Sue dan Poly atau sang kecil Suzi. Kami benar-benar sangat waspada, karena saya takut bila ini tersingkap saya dalam bahaya besar.
Sekian hari sesudah ulang tahun yang ke 11 pada sebuah peluang di mana Sue bekerja sampai tengah malam dan ke-2 Polly dan Suzi telah nyenyak, saya bertandang ke lagi Mindy. Nampaknya ia juga siap dengan lawatan ku. Kami bercumbu sampai telanjang berdua. Ini kali saya inginkan lebih dari sekadar mengoral dan dioral. Saya ingin coba menerobos memek kecil yang bikin gemas. Mindy juga akui ingin mencoba, karena ia ketahui dari narasi beberapa temannya ucapnya rasanya sangat nikmat.

Saya mau tak mau memakai kontribusi jelly sebagai pelicin. Kaki Mindy telah saya kangkangkan dengan lebar mungkin lantas kepala kontolku saya tujukan ke lubang vaginanya. Saya pencet pelan-pelan, berasa susah sekali, walau cuma masukkan kepala kontol. Tidak berserah, berulang-kali kudorong dan kulumuri dengan jelly supaya semakin licin. Saya meminta Mindy supaya relax hingga lubangnya tidak menyempit. Mindy selanjutnya dapat kerja sama.

Pelan-pelan kepala kontolku semakin melesak ke belahan vagina Mindy. Kelihatan jika bibir memeknya meluber keluar seperti tidak sanggup memuat tekanan kepala penisku. Saya lantas lakukan pergerakan pelan-pelan mundur-maju memperlancar jalan masuk kepala kontol. Sampai Mindy tidak merasakan sakit saya mulai menekan lebih dalam kembali. Sampai batasan topi baja, penisku telah mentok. Ini mungkin selaput daranya merintangi perjalanan masuk penisku. Saya arahkan Mindy supaya menarik napas dalam-dalam lantas mengembuskan . Begitu berkali-kali. Saya merasa sedikit ada pergerakan di saat memeknya.

Pada satu peluang ia menarik napas panjang saya pencet paksakan penisku menorobos masuk memecahkan selaput dara. Mindy berteriak kesakitan, ucapnya memeknya perih. Ia meminta saya mengambilnya. Saya menurutinya, tapi ia tahan tubuhku karena saat pergerakan penisku keluar ia merasa sakit. Ia meminta saya bertahan dahulu.
Dalam pada itu, penisku berasa seperti tercepit pintu, karena sangat ketatnya memek Mindy. Saya mulai dijalari gelombang orgasme sampai di titik yang tidak saya sanggup bendung kembali. Pada akhirnya meletuslah ejakulasi di saat memek Mindy. Automatis penisku berkedut-kedut di saat memeknya. Aku juga cukup lepas kontrol dengan menekan penisku lebih dalam . Penisku masuk setengah semakin sedikit.

Mindy menangis, tapi cuma keluarkan air mata, karena ucapnya memeknya perih. Saya sesudah sadar dan siuman dari orgasme merasa kasihan dan cukup menyesal , memaksakan kontolku yang seperti anak kucing ini menorobos perawan Mindy. Tetapi telah telanjur, dan saat ini ada tenggelam lebih dari setengah.
Memeknya sarat dengan cairan spermaku hingga kemudian meluber bersatu darah, tapi darahnya tidak banyak, hingga spermaku cukup warna merah muda.

Penisku mulai berkurang sesudah muntah barusan. Saya perlahan-lahan menarik keluar, sekalian Mindy meringis.
Ia protes karena ucapnya tidak berasa sedap justru sakit. Saya terangkan semua wanita akan rasakan sakit pada pertama jalinan, apalagi Mindy belum juga cukup usia sebetulnya untuk lakukan jalinan semacam ini.

Aku juga selekasnya bersihkan sisa mani yang tertinggal di alas yang menyengaja saya persiapkan di bawah bokong Mindy. Saya takut kasurnya ternodai, dan ini dapat jadikan Sue tahu bila saya meniduri anak kandungan kami.
Lebih dari satu minggu Mindy tidak tertarik bercumbu. Sebelumnya ia merasa perih bila jalan apabila membuang air kecil. Tetapi itu cuma beberapa saat saja. Esok paginya walau tetap berasa perih, tapi tidak membuat jalannya aneh.

Mungkin 10 hari saya tidak mengunjungi Mindy karena tidaklah sampai hati. Tetapi malam hari ini saat saya kembali asyik menonton sepak bola sampai tengah malam, dan Sue telah nyenyak, Mindy mendatangiku. Ia terang-terangan meminta saya mencumbuinya.

Saya tidak mungkin dapat menampik, apalagi Sue telah 3 ini hari memeknya muntah darah. Ku ikuti tarikan tangannya menunju kamar remaja Mindy.
Saya dan Mindy selekasnya terbenam dalam cumbuan berat dan ia telah 2x capai orgasme karena jilatanku.
Mindy memiliki inisiatif ingin coba kembali rasakan kontolku saat memeknya. Saya patuhi tekadnya karena saya memang ingin .

Penerobosan masuk memeknya masih sulit dan tetap membutuhkan jelly. Tetapi prosesnya tidak sesusah saat pertama dahulu. Kepala kontol mulai melesak dan perlahan-lahan saya dorong penisku terus masuk. Mindy tetap meringis, tetapi ucapnya tidak begitu sakit. Saya lakukan pergerakan memompa pelan-pelan untuk buka jalan. Pergerakan mundur-maju penisku mulai lancar dan Mindi tidak merasakan sakit kembali. Saya perlahan-lahan tempat lebih perdalam hunjaman penisku. Hebat, tangkai penisku yang 20 cm dapat tengelam semua. Ini pasti tidak saya sangka. Saya sebelumnya cuma punya niat bermain 1/2 tiang, tetapi karena ingin tahu saya coba menggerakkan terus, dan kenyataannya dapat.

Hebat ketatnya, penisku seperti diremas memek Mindy. Pergerakan mundur-maju memanglah tidak sebebas saat penisku masuk ke dalam vagina Sue, tetapi ini rasanya berlainan, karena lubang yang benar-benar sempit dan anehnya muat.
Pergerakanku perlahan sekali. Mindy menjelaskan penisku berasa sampai diperutnya. Awalannya memang saya benar-benar mengatur pergerakan berhati-hati. Tapi sesudah gesekan semakin lancar dan gelombang kepuasan mulai menyebar, saya semakin percepat pergerakan. Mindy melolong-lolong, saya tidak tahu ia merasa nikmat atau ekspresikan apa suaranya tersebut. Saya percepat pergerakanku hingga kemudian muncratlah sperma yang telah tiga hari ketahan. Banyaknya banyak.

Saya menyengaja tidak segera mengambilnya tapi masih tetap biarkan tenggelam. Sampai semua habis keluar. Saya istirahat sekalian masih tetap ada di atas tubuh Mindy. Tentu saja saya tidak seutuhnya menindih tubuhnya, saya masih tetap bertumpu pada siku dan lututku.

Sesudah rasa nyeri di kepala penisku lenyap, main-main saja saya lakukan pergerakan memompa. Penisku belum lemas betul masih cukup tegang dan lobang vagina Mindy telah licin oleh lumasan spermaku. Nikmat rasanya vagina yang ketat tetapi licin hingga berasa kesan cengkraman dan gesekan mundur-maju. Penisku berasa nikmat oleh pergerakan itu, hingga 1/2 tegang dan terkadang agak “kepenet”(sorry tidak ada bahasa Indonesianya), penisku mundur-maju.

Mengakibatkan tidaklah sampai melemas keseluruhan, penisku mulai menegang kembali. Memanglah tidak keras 100 %, tapi cukup kaku agar dapat masuk keluar di vagina yang sempit. Saya semakin semangat memompa dan keliatannya Mindy rasakan kepuasan. Mungkin Gspotnya terus tergores hingga ia semakin merasa nikmat. Saya terus memompa sampai selanjutnya tidak kusangka Mindy merengkuhku dan melingkarkan ke-2 kakinya kuat sekali. Aku juga merasa memeknya berdenyut.

Saya istirahat sesaat memberikan waktu Mindy nikmati orgasmenya. Sesudah ia siap kembali saya mengubah posisi, hingga ia ada diatasku. Awalnya ia kebingungan lakukan pergerakan sampai kerap penisku lepas dari cengkraman vaginanya. Tetapi untungnya gampang untuk ditempatkan kembali. Mindy saya tujukan lakukan pergerakan turun naik dan mundur-maju sekalian terkadang lakukan pergerakan putar. Saya meminta ia scan pergerakan yang mana ia rasa nikmat lantas lakukan pergerakan itu terus-terusan sampai capai kepuasan yang lebih tinggi.

Mindy temukan tempatnya dan ia agresif sekali bergerak hingga kemudian jatuh di dekapanku. Memeknya berdenyut kembali -denyut mencekram penisku.

Saya mengubah posisi dengan saya menindihnya, Saya berkosentrasi supaya bisa orgasme dan sekitaran 10 menit selanjutnya berasa kepuasan mulai menyebar dan pecahlah ejakulasiku untuk ke-2 kalinya di saat memek Mindy.
Mulai sejak itu tiap ada peluang Mindy selalu meminta di sebadani. Mungkin sekitaran 3x satu minggu ia mintaku. Selama ini perlakuan kami sebelumnya tidak pernah kedapatan.