Cerita Sex Berhubungan Intim Dengan Wanita Remaja Yang Hamil Muda

Namaku Lussy (nama rahasia). Di awal cerita ini terjadi, umurku 25 tahun dan telah menikah dengan seorang duda yang umurnya nyaris 2x lipat umurku. Ya saat Mas Trisno menikah denganku, umurnya telah 45 tahun. Dia ditinggalkan mati oleh istrinya yang terserang penyakit gagal ginjal.

Cersex Istri BinalDari almarhum istri pertama kalinya, Mas Tris memiliki 2 orang anak lelaki, yang di saat saya baru menikah umur anak tiriku itu baru 18 tahun dan 19 tahun. Yang pertama namanya Yanu. Adiknya namanya Kendo. Tetapi mereka tidak tinggal bersamaku, karena yang pertama kuliah di Jakarta, sedangkan Kendo tinggal dengan tantenya (adik ibunya almarhum).

Perkawinanku dengan Mas Trisno berjalan lancar dan berselimutkan kebahagiaan. Kehidupan kami cukup berkecukupan, karena Mas Tris seorang manajer pemasaran dalam suatu perusahaan swasta yang lumayan besar. Sendirinya upah dan pendapatan tambahan Mas Tris lumayan besar. Cukup buat penuhi keperluan setiap hari, bahkan juga banyak lebihnya.

Yang membuatku berbahagia ialah sikap Mas Tris kepadaku. Ucapkanlah dia benar-benar memanjakanku. Apa pun itu yang kuminta, sering kali diwujudkannya. Tetapi sudah pasti permintaan-permintaanku selalu yang masuk di akal.

Semula Mas Tris dan saya dijodohkan oleh tanteku (adik Papah). Aku juga manut saja ke Tante Eka, begitu nama adik Papah tersebut. Karena umurku telah 24 tahun, pada kondisi tidak bekerja juga. Kerja tidak, kuliah juga tidak. Ucapkanlah perkawinanku dengan Mas Tris bukan berdasar cinta. Tetapi lama-lama hati sayangku kepadanya mulai berkembang. Khususnya karena saya telah rasakan begitu bagusnya suamiku tersebut.

Cinta kami juga berbunga dan berbuah. Saya mulai terlambat menstruasi. Dan sesudah memeriksa diri ke dokter, saya dipastikan positif hamil.

Mas Tris terlihat suka sekali dengar informasi kehamilanku. Dia menciumi pipiku sekalian membelai rambutku secara halus.

Semenjak hari itu Mas Tris makin memanjakanku. Tiap pulang kantor, selalu ada-ada saja makanan kesukaanku yang dibelinya, lantas diberikan padaku.

Tetapi tahukah suamiku jika dalam saat ngidam ini saya terus menerus dirayu oleh mimpi aneh ini? Apa ini sempat terjadi pada wanita lain di periode ngidamnya? Lalu… apa saya harus terang-terangan ke suamiku mengenai beberapa mimpi edan lalu jadi obsesiku ini?

Beberapa hari saya pikirkan hal tersebut. Saya ingin bercerita hal tersebut ke suamiku, tetapi saya takut… takut suamiku geram dan lantas membuat tidak mengasihiku kembali. Tetapi mengapa saya terus menerus dirayu oleh bayang-bayang mengenai episode dalam mimpi itu?

Sampai di suatu sore, suamiku pulang kantor sekalian bawa makanan kesukaanku. Tetapi semenjak saya dirayu oleh angan-angan aneh itu, makanan apa pun itu tidak ada yang mengeluarkan seleraku.

“Dalam sekian hari ini makanan kesukaan Adik tidak pernah disentuh. Mengapa sayang?” bertanya suamiku sekalian menyeka-usap rambutku (ia biasa panggil “Adik” padaku).

Saya tidak menjawab. Hanya tersenyum lirih.

“Umumnya jika hamil muda kan sukai ngidam. Apa Adik ada yang diharapkan?” tanyanya kembali.

“Ada,” saya menggangguk sekalian tersenyum manja, “tetapi bukan makanan.”

“Ohya?! Ingin apa? Bicara saja terang-terangan.”

“Tidak ah. Takut Mas geram.”

“Mengapa harus geram?”

“Masalahnya kemauanku ini tidak lumrah Mas.”

“Iya gakpapa. Istri yang sedang ngidam memang sukai ada yang serba aneh kemauannya. Ada yang meminta makan bubuk genteng, ada yang ingin disuapin seperti bayi, ada yang ingin mainkan cacing dan banyak. Lalu Adik ingin apa?”

“Aaah… takut Mas geram.”

“Gak… saya janji tidak akan geram.”

“Betulan Mas tidak akan geram?”

“Iya.”

“Janji dahulu Mas tidak akan geram.”

“Baru saja saya kan sudah janji tidak akan geram. Ucapkan saja apa yang Adik idamkan?”

“Malu nyebutinnya Mas,” sahutku sekalian menyandar kepalaku di pundak suamiku.

“Lho… kok malu? Sebutin saja, sayang. Kan saya sudah janji tidak akan geram, apa pun itu keinginan Adik akan kukabulkan.”

“Mas… aku… saya ingin…” ucapanku terganggu di kerongkongan, karena saya tahu jika apa yang aku inginkan ini bukanlah hal yang umum.

“Lho… kok bicaranya sepotong-sepotong?”

“Mmm… awalnya saya mimpi aneh Mas… mimpi… mimpiin megang titit Dimas.”

“Ohya?! Terus?”

“Tidak tahu mengapa saya harus mimpi semacam itu. Dan… semenjak mimpi itu saya jadi… menjadi membayangkan terus… membayangkan megang titit Dimas… tetapi Mas jangan geram ya…”

Mas Tris terlihat seperti bingung. Tetapi tidak lama kemudian dia menepuk bahuku sekalian berbicara, “Mudah ini sich. Kelak Dimas kupanggil dan apa yang Adik idamkan tentu terwujud. Tenang saja.”

“Benar Mas? Jadi… menjadi Mas tidak geram?”

“Gak…” Mas Tris geleng-geleng, “Kan sudah kubilang, wanita yang ngidam sukai punyai kemauan yang serba aneh.”

Saya menunduk. Ada hati malu bersatu haru, karena sikap suamiku terlihat biasa saja. Walau sebenarnya kemauanku ini lain dari lainnya. Semestinya suamiku marah, kecewa, cemburu dan lain-lain. Tetapi ia terlihat rileks saja. Bahkan juga tanpa kuduga-duga dia keluarkan hapenya. Dan… betapa mengagetkannya saat kudengar suara suamiku di dekat hapenya: “Dimas!

Sesudah suamiku menempatkan hapenya di meja dandanku, saya menggenggam pergelangan tangannya. “Mas… sekencang itu panggil Dimas kesini?”

“Kemauan istri ngidam harus selekasnya dilakukan, agar anaknya tidak ngeces nantinya,” sahutnya sekalian mengecup dahiku.

“Terus… apa yang perlu kulakukan kelak Mas?”

“Lho… kok tanya dengan aku? Kerjakan saja apa yang Adik ingin.”

“Saya hanya ingin saksikan dan megang penisnya.”

“Megang penisnya sampai ereksi kan?”

“Mmm… iya Mas,” sahutku jujur. Memang saya tidak akan sukai jika penis anak buah suamiku itu tidak ereksi. Apa nikmatnya megangin penis yang terkulai lemas?

“Jika penisnya tidak tegang, remas-remas saja seperti jika Adik sedang menggairahkanku.”

Saya tercenung. Ucapan-ucapan suamiku dilemparkan demikian rileksnya, seakan tidak ada suatu hal yang hebat untuknya.

“Mas,” kataku tidak lama kemudian, “saya ingin mandi dahulu, bisa tidak?”

“Iya, mandilah sebersih mungkin. Adik harus terlihat secantik dan semenarik mungkin. Jika Adik terlihat kusut, dapat lemas titit sang Dimas kelak. Hahahaa…”

Saya tersipu. Lantas mengambil langkah ke kamar mandi.

Dalam kamar mandi saya termangu di muka cermin besar yang melekat pada dinding keramik. Lantas kutanggalkan semua yang menempel di badanku sampai telanjang. Kehamilanku baru enam minggu, menjadi perutku biasa saja, belum buncit.

Kupandang bayang-bayang sekujur badan telanjangku di muka cermin. Badan yang mulus, tanpa bintik setitik juga, dengan kulit yang putih kekuning-kuningan. Sementara mataku cukup sipit, hingga patutlah jika beberapa orang mengiraku amoy.

Ya, saya ingat betul, rekan sama kelasku dahulu sukai menjulukiku “amoy”, karena muka dan kulitku serupa orang Tionghoa. Walau sebenarnya saya asli Indonesia.

Badanku tinggi tegap, dengan sepasang payudara yang memiliki ukuran sedang saja, tetapi tetap padat sekali. Dulu saya sebelumnya pernah memiliki cita-cita ingin jadi seorang polwan. Tetapi banyak temanku yang katakan, jika saya terlampau elok menjadi seorang polwan. Lagian sikap dan sikapku kurang kuat gemulai, hingga Santi (rekan sama kelasku) sebelumnya pernah berbicara, “Kamu lebih pas daftar menjadi pramugari atau gadis mode Lus.

Tetapi biasanya terjadi kecelakaan pesawat terbang membuatku takut, tidak berani daftarkan diri menjadi pramugari . Maka gadis mode juga saya tidak ingin, karena kerap tersebar informasi negatif mengenai beberapa gadis mode, yang ujungnya terperosok ke jurang prostitusi tersembunyi.

Sesudah mandi sebersih mungkin, semula saya ingin berhias seperti akan melancong. Tetapi sesudah dipikirkan, saya tidak ingin terlampau jelas ingin mengundang perhatian. Karena itu kukenakan kimono sutra putih polosku. Lantas bermake-up tipis, menyisir rambutku dan menyemprot minyak wangi di sejumlah sisi “penting”.

Barusan saya usai membereskan rambutku, Mas Tris masuk kembali ke kamar. Dan berbicara, “Dimas sudah di jalan ke arah kesini.”

Saya degdegan dengar laporan suamiku tersebut. Lantas menanyakan, “Kelak hanya apa yang bisa kulakukan Mas?”

“Apa pun itu bisa Adik kerjakan. Bahkan juga jika perlu… mengoralnya bisa. Asal tidak penetratif saja,” sahut suamiku sekalian tersenyum.

“Haaa?! Mengoralnya bisa?” cetusku sekalian menggenggam pergelangan tangan suamiku.

“Bisa,” sahut suamiku bersuara halus, “Kan di muka mataku, mungkin Dimas takut-takut, hingga penisnya susah dibangkitkan. Cara paling akhir yang bisa Adik kerjakan ya mengoralnya…”

“Tapi… jika ia menjadi gairah bagaimana Mas?”

“Oral saja lagi hingga ngecrot. Hehehee… terang-terangan, acara sesaat lagi ini membuatku menjadi terangsang, Dek. Seseorang kan ada yang menyengaja share wife atau swinger… dan saya tidak pernah melakukan.”

“Jadi…?”

“Jadi sebetulnya saya merasa semangat sekarang ini. Karena itu jangan canggung-canggung kelak ya. Kerjakan saja semuanya yang Adik ingin, yang terpenting janganlah sampai penetratif. Kan Adik telah eksper membuatku senang di saat Adik kembali haid.”

Saya hanya menggangguk – angguk dengan hati tidak pasti. Memang saya kerap mengoral suamiku sampai ejakulasi di saat saya sedang menstruasi. Tetapi mungkinkah saya sampai hati melakukan ke anak muda yang tampan namanya Dimas itu… di muka suamiku juga?

Saat saya tetap tercenung pikirkan semua itu, mendadak kedengar bunyi bel berdentang-denting.

“Nach itu Dimas tiba,” suamiku bangun dari sofa di kamarku, “Adik nantikan saja di sini ya. Kelak jika sudah ada persetujuan, Dimas akan kuajak masuk kesini. Rileks saja ya sayang. Kemauanmu tentu diwujudkan.”

Saya menggangguk perlahan-lahan, dengan jantung memukul lebih kuat dibanding umumnya.

Lantas suamiku keluar kamar. Dan saya duduk di atas sofa yang cukup jauh dari bed. Lantas menghidupkan tiviku, walau daya ingatku ke Dimas terus.

Saat ngidamku memang aneh. Wanita lain di periode ngidamnya inginkan makanan ini – tersebut. Tetapi saya malah… ah… saya malu menjelaskannya berkali-kali. Untungnya saya punyai suami yang dapat meng ikuti jalan pikiran istrinya yang ngidam ini. Jika tidak, tentu berkelahi jadi.

Cukup lama suamiku bercakap-cakap dengan Dimas di ruangan tamu. Mungkin suamiku sedang atur apa yang perlu Dimas kerjakan dalam kamar ini kelak.

Dan saya betul-betul degdegan menanti mereka. Tetapi masih tetap dengan keinginan ingin supaya fantasi ngidamku diwujudkan.

Dan saat pintu kamarku dibuka oleh suamiku, saya makin degdegan. Ditambah sesudah terlihat Dimas yang ganteng itu mengambil langkah masuk ada di belakang suamiku. Ada hati malu saat berjumpa pandang dengan Dimas yang muda cakap tersebut. Tetapi kusaksikan dia juga tersipu-sipu, seperti malu .

Dan suamiku berbicara, “Nah… semua sudah clear ya Dim. Sama seperti yang telah dikisahkan barusan, istriku sedang ngidam. Dan ngidamnya itu ingin megang penismu pada kondisi ereksi.”

Dimas menggangguk-angguk kecil, tetapi terlihat seperti tidak berani menyaksikan mukaku.

“Nach.” suamiku meneruskan,” saya sendiri justru semangat untuk merestui kemauan ngidamnya istriku . Maka saat ini apa pun itu bisa dilaksanakan, asal jangan penetratif saja.”

“Ma… tujuannya bagaimana Mas?” bertanya Dimas terlihat kebingungan.

“Sesudah penismu digenggam oleh istriku, semua kemungkinan kan dapat terjadi. Nah… dalam situasi semacam itu, apa pun itu bisa kalian kerjakan. Yang jangan hanya penetratif saja. Paham kan?”

“I… iya Mas …” Dimas menggangguk dengan sikap yang terlihat kebingungan.

Saya terduduk rikuh di atas sofa yang cukup jauh dari bed. Sementara Dimas terlihat sedang turunkan ritsleting celana jeansnya. Dan saya mulai degdegan. Tetapi rasa penasaranku semakin menjadi, ingin secepat-cepatnya melihat dan menggenggam penis anak muda 25 tahunan tersebut.

Saya tidak tahu mengapa ngidamku semacam ini. Malu sendiri saya berceritanya. Tetapi andaikan Mas Tris tidak luluskan kemauanku, aku juga tidak akan memaksakan.

Dan Mas Tris seakan memahami jika di saat itu saya sedang canggung sekali. Karena Dimas telah melepas celana jeansnya. Mas Tris justru membisiki telingaku, “Kelak jika penisnya lemas terus, seharusnya Adik lepasin kimononya. Jika perlu, telanjang bundar bisa. Dasarnya apa pun itu bisa, terkecuali penetratif saja yang jangan.

“Lalu… jika ia megang ke mana-mana bagaimana?” tanyaku perlahan-lahan, sedangkan Dimas sedang melepas pakaian kausnya.

“Tidak apapun. Megang apa pun itu bisa. Bahkan juga Adik bisa ngemut penisnya, jika perlu sampai ngecrot, asal penisnya jangan dimasukin ke tempik Adik saja,” sahut Mas Tris 1/2 berbisik.

Buat seseorang, mungkin “izin” dari suamiku itu termasuk aneh bin ajaib. Tetapi jiwaku sendiri sedang dibelenggu oleh keinginan yang aneh. Hingga saya menyikapi bisikan-bisikan suamiku itu dengan anggukan kepala… dengan desir-desir aneh yang makin menerpa batinku.

“Mas… apa Mas betul-betul mengizinkan semua ini?” tanyaku perlahan-lahan.

“Iya sayang,” sahut suamiku sekalian mengelus rambutku.

“Mas tidak geram?”

“Tidak,” suamiku geleng-geleng, lantas melihat ke Dimas, “Nah… sama seperti yang telah kukatakan barusan, kalian bebas lakukan apa, terkecuali penetratif. Oke?”

Dimas telah bertelanjang dada. Celana jeansnya memanglah belum dilepaskan, tetapi ritsletingnya telah di turunkan sampai habis, hingga celana jeans itu merosot sampai pahanya, hingga celana dalam putihnya telah terlihat. Tetapi apa yang ingin kusaksikan dan kupegang itu tetap tertutup oleh celana dalamnya.

Dan saya makin degdegan saat Dimas telah berdiri di depanku, dengan celana jeans yang telah ditanggalkan, hingga dia tinggal dengan celana dalam saja. “Silahkan Mbak…” kata Dimas sekalian menempatkan ke-2 tangannya ada di belakang badannya.

“Lepasin dahulu celana dalamnya donk …” sahutku canggung, tanpa berani melihat ke Dimas atau suamiku.

“Iya, tidak perlu sungkan-sungkan… membuka saja celana dalammu Dim,” kata suamiku perkuat permintaanku.

Dimas melihatku dengan sorot sangsi. Tetapi lantas dia melepaskan celana dalamnya.

Dan saya mulai degdegan sesudah menyaksikan penis Dimas tersebut. Masih terkulai, tetapi terlihat panjang sekali, lebih panjang dibanding punyai suamiku. Seperti apakah jika sudah ngaceng?

Saya dekatkan tanganku ke penis yang tetap terkulai lemas itu, sekalian melihat pada suamiku, sebagai sikap untuk minta izin karena saya ingin menggenggam penis yang lemas tersebut.

Suamiku menggangguk sekalian tersenyum. Tanda menyilahkanku untuk lakukan apa yang aku inginkan.

Walau tetap merasa canggung, tanganku mulai memegang penis Dimas yang lemas tersebut. Lalu… dikit demi sedikit penis Dimas jadi membesar dan menegang. Tetapi tidak lama kemudian menurun kembali.

Mendadak suamiku berbicara padaku, “Saya menjadi horny Dek. Bagaimana jika kita bermain dalam posisi doggy, agar masih tetap dapat memainkan titit Dimas?”

Saya melihat pada suamiku sekalian menyahut, “Terserah …”

Lantas suamiku mengendalikannya. Sebelumnya dia melepas kimono sutra putihku, hingga saya menjadi telanjang bundar di muka mata Dimas dan suamiku. Dimas terlongong menyaksikanku telah telanjang ini. Tetapi suamiku memerintah Dimas telentang di atas tempat tidurku. Lantas saya diminta menungging sekalian “ngerjain” penis Dimas sesukaku.

Pada kondisi horny berat ku ikuti semua panduan suamiku. Jika sekalian menungging antara ke-2 kaki Dimas, saya membulatkan tekad mengulum penis anak muda yang lemas tersebut. Sementara suamiku berasa mulai menjilat-jilati kemaluanku dari belakang. Terkadang berasa anusku juga dijilatinya. Hingga saya makin horny.

Dimas terlihat kenikmatan dengan selomotanku. Penisnya mulai menegang dan menegang lagi hingga pada kondisi “siap tempur”. Dalam pada itu, sembunyi-sembunyi suamiku mulai memasukkan penisnya ke kemaluanku dari belakang. Hmmm… ini asyik… saat Mas Tris mulai mengentotku dalam posisi doggy ini, aku juga makin semangat untuk menyelomoti tangkai kemaluan Dimas yang telah betul-betul ngaceng ini.

Dimas mulai berdengus-dengus. Sementara suamiku sempat berbicara, “Toketnya remas, Dim. Tetapi jangan terlampau keras.”

“Iii… iya Mas …” sahut Dimas sekalian menjulurkan tangannya ke payudaraku. Dan memulai lakukan apa yang disuruh oleh suamiku. Meremas sepasang payudaraku secara halus dari samping.

Gila… ini fenomenal sekali. Jika saat suamiku makin terus-menerus mengentotku dari belakang, aku juga makin binal menyelomoti penis Dimas, kadangkala menjilat-jilati pucuknya, kadangkala menyedotnya… wow… baru saja sekali ini saya rasakan enaknya bersetubuh. Bahkan juga saya mulai berimajinasi. Seakan-akan penis yang sedang mengentotku dari belakang itu penis Dimas.

Tetapi sayang… suamiku tidak dapat tahan lama. Baru belasan menit dia mengentotku, berasa penisnya didesakkan kuat-kuat… lantas air maninya menyemprotkan-nyemprot ke lubang kemaluanku.

Saya sedih berat. Walau sebenarnya saya masih ingin lama rasakan kepuasan lebih dibanding umumnya ini.

Tetapi mendadak suamiku berbicara, “Dimas… keputusanku berbeda. Kamu bisa meniduri istriku, tetapi jangan dilepaskan di dalamnya. ”

Aku juga keluarkan penis Dimas dari dalam mulutku. Dan melihat ke suamiku, “Tidak salah Mas? Ucapnya jangan penetratif …”

Mas Tris mengelus rambutku sekalian menjawab, “Adik tentu belum senang. Sementara saya merasa kasihan pada Dimas. Tentu ia benar-benar teraniaya, karena keinginannya tidak diteruskan sampai habis . Maka kuijinkan Dimas menjamahmu dengan normal.”

Sebetulnya saya senang pada keputusan suamiku tersebut. Tetapi saya tetap berusaha untuk memberikan keyakinan jika keputusan suamiku betul-betul telah bundar. “Saya kan sedang hamil Mas. Bagaimana anaknya nanti… punyai ayah 2 orang?”

“Anakku masih tetap anakku,” sahut suamiku, “Ia kan telah tercipta dengan DNAku. Walau Dimas lepasin dalam, DNA janin itu tidak akan berbeda. Ayolah… saya ingin melihat Adik bermain sama Dimas.”

“Ntar… saya ingin pipis dahulu,” ucapku sekalian turun dari tempat tidur, lantas mengambil langkah ke kamar mandi.

Sebetulnya saya bukan sekedar ingin pipis, tetapi sekalian ingin membersihkan dan mengelap kemaluanku sampai kering. Tidak sedap rasanya “memberikan” kemaluanku pada Dimas pada kondisi basah kuyup oleh air mani suamiku ini.

Entahlah mengapa, walau berlaku canggung, dalam hatiku ada hati ingin membuat kemaluanku sempurna dan jangan ada kesan-kesan jelek di hati Dimas kelak.

Aku juga berjongkok dan pipis. Lantas kubersihkan kemaluanku dengan sabun. Sesudah kubilas, kuseka kemaluanku dengan handuk sampai betul-betul bersih dan kering.

Saat ingin keluar, saya berpapakan dengan suamiku yang masih juga dalam kondisi telanjang, sedangkan saya telah membelitkan handuk dari payudaraku sampai pangkal pahaku.

“Lakukan secara baik ya,” bisik suamiku, “Jika perlu, berlaku centil tidak apapun. Jika Dimas masih ragu, usir keraguannya tersebut. Dasarnya bikinlah agar Dimas suka.”

“Mengapa harus begitu Mas?” tanyaku bingung, walau sebetulnya isi hatiku sama dengan perkataan suamiku tersebut.

“Telah lama saya kerap memikirkan istriku dijamah lelaki lain. Tentu ada effek bagus pada batinku kelak. Saya akan cemburu melihatmu dijamah oleh Dimas, lantas dari cemburu itu akan ada nafsu yang hebat. Kelak saja kujelaskan semua. Dimas telah menanti tuch. Tentu dengan tidak sabaran,” kata suamiku sekalian menepuk bahuku.

“Tetapi Mas janji dulu… janji tetap menyukaiku…”

Mas Tris tersenyum dan mengecup pipiku sekalian berbicara 1/2 berbisik, “Cintaku bahkan juga akan makin bertambah besar kelak Dek. Itu janjiku !”

Saya tersenyum suka. Karena saya yakin jika suamiku selalu memenuhi janjinya.

Lantas saya mendekati Dimas yang telanjang dan duduk di tepian tempat tidurku. Dengan sikap canggung.

Dan sama seperti yang disuruh oleh suamiku, saya “berkewajiban” untuk menyingkirkan kecanggungan Dimas tersebut. Karena itu aku juga melepaskan handuk yang membelitku, berdiri di muka Dimas, dengan senyuman di bibirfku. Lantas duduk mendekat ke samping Dimas, sekalian merayapkan tanganku ke penisnya yang ngaceng sekalian berbicara 1/2 berbisik, “Penisnya ingin dimainkan pada pada vegiku?

Sekalian buang muka Dimas menyahut, “Mas Tris kan telah ngijinin. Jadi… bergantung Mbak sekarang ini. Jika saya sich benar-benar ingin Mbak …”

“Saya bergantung Mas Tris. Karena ia telah menyuruh… ya saya ingin ditiduri olehmu, Dim. Tetapi saya sedang hamil. Upayakan jangan terlampau menekan perutku ya.”

“Baik Mbak …”

Saya berpikiran sesaat. Lantas mengarah ke tepian bed. Bokongku menjadi di tepian bed, sedangkan ke-2 kakiku terjuntai ke lantai. Dan berbicara, “Kamu bermain sekalian berdiri kan dapat Dim.”

“Iya Mbak,” sahut Dimas yang segera berdiri antara ke-2 iris kakiku.

Pojok mataku mencari suamiku yang masih belum muncul-muncul. Mungkin ia sekaligus mandi atau sedang boker. Masalahnya lama dia di dalam kamar mandi. Sementara Dimas telah menempatkan moncong penisnya di mulut kemaluanku.

“Ayo… dorong Dim …”ucapku tidak sabar. Ingin supaya Dimas selekasnya memasukkan penisnya di saat suamiku belum ada. Masalahnya sembunyi-sembunyi Dimas sudah menghidupkan rasa ingin tahu dan birahi yang benar-benar hangat dalam batinku. Lalu… apa saya akan dituding oleh suamiku nantinya?

Entahlah. Yang terang, saat tangkai kemaluan Dimas yang panjang besar itu mulai melesak masuk ke lubang kewanitaanku, oh… rasanya syur sekali… karena birahiku sudah mengganas…!

Ditambah lagi sesudah Dimas mengayun tongkat kejantanannya dalam lubang kemaluanku yang telah basah ini… saya mulai melayang di alam birahi yang benar-benar cantik, yang begitu cantiknya hingga susah kulukiskan dalam kata-kata.

Dan kedengar suara suamiku, “Tidak perlu sekalian berdiri begitu Dim. Tengkurap tidak apapun. Asal perutku jangan terlampau dihimpit saja. Sekalian tahan tubuhmu supaya tidak begitu menghimpit perutku.”

Dengar suara Mas Tris, aku juga melihat kepadanya, dengan senyuman malu. Tetapi Mas Tris hanya tersenyum sekalian mengacung jempol. Sementara Dimas telah ada di atas perutku, sekalian mendesakkan tangkai kemaluan, dengan ke-2 lengan meredam tubuhnya supaya tidak menekan perutku.

Dalam hati canggung ini kupejamkan mataku sekalian melebarkan ke-2 pahaku dengan lebar mungkin. Dan… aaaah… tangkai kemaluan panjang besar itu mulai melesak ke lubang kewanitaanku. Membuatku makin terpejam karena malu pada suamiku. Ditambah saat penis Dimas mulai mengentot lubang senggamaku…

Kedengar suamiku yang diperuntukkan ke Dimas, “Nach demikian kan lebih rileks Dim. Bagaimana rasanya? Sedap kan memek istriku?”

“Iiii… iyaa… ee… sedap sekali Mas …” sahut Dimas terengah.

Mungkin berikut persetubuhan paling gila buatku sejauh ini. Bagaimana tidak. Saya sedang ditiduri oleh Dimas, suamiku justru menanyakan sedap gaknya memekku. Yang dijawab oleh Dimas, sedap sekali Mas. Apa ada istri lain pernah merasakan hal yang seolah tengah kualami ini?

Dan saat suamiku duduk di tepian tempat tidur sekalian mengelus-elus rambutku, rasanya saya menjadi serba salah. Kucoba melihatnya dengan hati kasihan. Tetapi lantas kudengar suaranya, “Santai saja Sayang. Sebetulnya saya seringkali mengkhayalkan peristiwa yang semacam ini. Saat ini kebenaran ada Dimas yang dapat menolong untuk merealisasikan angan-anganku.

Pada kondisi yang telah lupa dataran, aku juga menyahutnya, “Jika Mas ingin saya santai, Masnya ke luar dahulu gih… jangan diam di dalam kamar dulu… agar saya lebih bebas menikmatinya …”

Mas Tris tersenyum. Mengecup pipiku. Berbisik, “Iya… saya akan menanti di luar kamar. Cicipi saja semua, ya Sayang.”

Kuremas tangan suamiku, lantas kubiarkan dia kenakan kain sarung dan mengambil langkah keluar ruang tidur ini.

Sesudah suamiku berakhir, saya membisiki telinga Dimas, “Punyamu hebat nikmatnya, Dim. Karena itu saya ingin menikmatinya tanpa dilihat oleh Mas Tris yang membuatku canggung.”

“Iya Mbak… saya menjadi rikuh dilihat oleh Mas Tris tadi…”

“Nah… saat ini kerjakan lah sebagus mungkin… kira saja saya ini pacarmu, ya Dim.”

“Baik Mbak …” sahut Dimas sekalian mulai menggeserkan tangkai kemaluannya dalam lubang kewanitaanku.

“Dim… ooooh… ini hebat nikmatnya Dim… ooooh …” rintihku histeris saat penis Dimas mulai lancar bermaju undur dalam lubang senggamaku.

Dimas itu selainnya lebih muda dibanding suamikku, ukuran penisnya juga berlainan, lebih panjang serta lebih besar dibanding punyai suamiku. Karena itu saat penisnya mulai lancar mengentot lubang kemaluanku, berasa betul sreset… sreset… sreset… enaknya melesat-lejit dari ujungnya kaki sampai ke ubun-ubunku…

Ditambah lagi sesudah Dimas mulai mencelucupi pentil toketku (atas permintaanku), rasanya kompletlah semua nikmat yang tercurah dari persetubuhan dengan Dimas ini.

Tetapi saya sempat berbisik kembali ke telinga Dimas, perlahan sekali karena takut kedengar oleh suamiku, “3 hari kembali Mas Tris akan pekerjaan ke Denpasar. Ucapnya ingin nginap dua malam di situ. Kamu diem-diem kesini ya …”

“Iya Mbak… malam kan? Siangnya kan saya kerja.”

“Ya iyalah. Saya ingin disetubuhi dengan kamu tadi malam jemu, tanpa masalah Mas Tris.”

“Ta… tapi… ini saya sudah ingin ngecrot Mbak …”

“Haaa? Kok cepat sekali?”

“Sudah terlampau dibayang-bayangin sich semenjak tadi… tetapi jika ngecrot, paling lima menit selanjutnya dapat ngaceng kembali.”

“Ya sudah lepasin saja dahulu. Kelak akan kuusahakan supaya ngaceng kembali sesudah ngecrot.”

“Lepasin di mana Mbak?”

“Di dalam aja… tidak apapun kata Mas Tris .”

Lantas Dimas memacu tangkai kemaluannya dengan pergerakan yang bisa lebih cepat. Dan pada akhirnya ia memasukkan penisnya dalam – dalam, dengan napas ketahan… lantas kedengar napasnya berdengus – dengus bersamaan secara berkejut – kejutnya tangkai kemaluannya tang tengah menyemprotkan – nyemprotkan air maninya dalam lubang kewanitaanku.

Creeeet… cretttttt… croooooottttttt… cretttt… crooootttttt… croooottttttt… croooooooootttttt…!

Dimas seperti terkejut. Demikian usai ejakulasi dalam lubang kewanitaanku, Dimas langsung mengambil tangkai kemaluannya, lantas mengarah ke pintu arah ke ruangan depan, seperti melihat suatu hal.sebuah hal. Lantas balik lagi padaku sekalian berbicara 1/2 berbisik, “Mas Tris ketiduran di sofa…”

“Iya… biasa ia sich demikian. Jika menonton tivi sukai ketiduran sampai pagi,” sahutku sekalian mengusap kemaluanku dengan kertas tissue basah. Lantas menarik pergelangan tangan Dimas.

Tanpa merasa canggung kembali, kucium bibir anak muda tersebut. Di ikuti dengan bisikan-bisikan, “Sebetulnya kontolmu sedap sekali Dim. Sayang cdepet bangetg ngecrotnya.”

Bisikan-bisikan itu kulontarkan sekalian menggenggam penis Dimas yang telah terkulai lemas. Tetapi baru sesaat saya menggenggam dan mengelus – elus kepala penis Dimas, datang – datang kurasakan tangkai kemaluan Dimas mulai jadi membesar dan menegang. Karena itu kuremas – remas penis Dimas secara halus, hingga kemudian ngaceng lagi…

“Sudah ngaceng Dim,” ucapku sekalian merayap dan menunggingkan pantatku, “Masukkan dari belakang saja ya.”

“Iya Mbak,” sahut Dimas sekalian berlutut di belakangku di atas bed. Lantas sekalian menggenggam bbuah bokongku Dimas masukkan tangkai kemaluannya ke lubang kewanitaanku yang basah ini. Blesssss… berasa tangkai kemaluannya membenam ke lubang sanggahmaku.

“Iyaaaaa… sudah masuk Dim… rintihku sekalian merengkuh bantal guling, “mari entotin lagi… gampang – mudahan jangan buru-buru ngecrot seperti barusan.”

“Iiii… iyaaaa Mbak… mungkin saat ini sich akan lama ngecrotnya…” sahut Dimas sekalian mengayun penisnya bermaju undur dalam lubang kemaluanku.

“Aduuuuh… sedap Dim… mari entot terus Diiim… ini sedap sekaliii… iyaaaaa… aaaaah… aaaaa… aaaaah… enaaaaak Diiiim… enaaaaaak… “rintihku dengan suara ditahan – tahan, supaya janganlah sampai kedengar oleh Mas Tris. Agar ia jangan terjaga dengar suara rintihanku.

Sekalian meremas – remas pantatku, Dimas juga menyahut 1/2 berbisik, “Iya Mbak… ini tem.. tempik Mbak juga… sedap sekali… uuuuughhh… uuuugh…”

“Iyaaaaa… mari entot terus Dim… lama-lama semakin sedap niiiih… aaaaaah… Diiim… enaaak Diiim… enaaaaak… entot terussss… iyaaaaa… iyaaaaa… ooooh Diiim… oooooh… ohhhhh… Diiiiimaaaas…”

Ini kali Dimas lebih poerkasa dibanding yang pertama barusan. Lebih dari 1/2 jam dia mengentotku, hingga keringatnya mulai berguguran di punggungku. Bahkan juga dengan gesitnya dia menepuk – nepuk bokongku.

Dan… ini kali saya betul – betul orgasme.

Dengan badan melafalkanng kutahan napasku. Dan ooooh… pucuk orgasme yang teramat cantik ini juga kurasakan. Diikuti dengan ejakulasi Dimas juga yang crot crot croooooootttttttt…!

Bersambung…