Cerita Sex Berhubungan Badan Terkini Saat Ditiduri Sama Anak Remaja

Suamiku namanya Prasetyo, usia 47 tahun, seorang karyawan pemerintah di kota B. Saya berbahagia dengan suami dan ke-2 anakku. Suamiku seorang lelaki yang gagah dan memiliki tubuh besar, biasa sajalah dahulu dianya seorang tentara. Performaku sendiri mesikipun sudah berumur tetapi benar-benar terurus karena saya rajin ke salon, fitnes dan yoga. Kata orang, saya seperti Donna Harun. Badanku masih tetap dapat disebutkan langsing, mesikipun payudaraku termasuk besar karena sudah mempunyai anak 2.

Cersex Istri BinalAnakku yang pertama namanya Rika, seorang gadis remaja yang mulai dewasa. Dianya barusan masuk ke dalam PTN Favorite. Yang ke-2 namanya Sanggah, masih tetap sekolah SMA kelas 2. Sang Rika mesikipun tinggal serumah dengan kami tetapi lebih seringkali habiskan waktu pada tempat kosnya di teritori Gejayan. Jika sang Sanggah, karena cowok remaja, lebih seringkali bergabung dengan teman-temannya alias juga repot beraktivitas di sekolahnya. Sejak tidak repot mengurus beberapa anak, kenasiban seks ku terus tua malah terus semakin menjadi. Apalagi suamiku bukan hanya memiliki tubuh kekar, orang yang benar-benar terbuka masalah masalah seks. Akhir-akhir ini, sehabis beberapa anak besar, kami abonemen internet.

Saya dan suamiku seringkali searching beberapa persoalan seks, baik video, narasi, alias juga beberapa gambar. Semua jenis style terkait tubuh kami kerjakan. Kami bercinta benar-benar seringkali, minimum satu minggu 3x. Entahlah kenapa, sejak kami seringkali berselancar pada internet, nafsu seksku terus menggebu. Sebagai petinggi, suamiku seringkali tidak ada di dalam rumah, tetapi jika cocok di dalam rumah, kami segera bermain kuda-kudaan, hehehe.

Sudah lama kami putuskan tidak untuk punyai anak kembali. Tetapi saya benar-benar takut untuk pasang spiral. Dahulu saya sebelumnya sempat coba suntik dan pil KB. Tetapi sekarang kami lebih seringkali gunakan kondom, alias lebih tidak jarangnya suamiku ‘keluar’ di luar. Umumnya di mukaku, di payudara, alias bahkan juga dalam mulutku. Dasarnya kami benar-benar berhati-hati agar Sanggah tidak punyai adik . Dan tenang saja, suamiku benar-benar jago mengontrol muncratannya,

jadi saya tidak cemas dianya muncrat dalam rahimku. Sebagai wanita berumur, badanku termasuk sintal dan seksi. Payudaraku bisa dibuktikan sudah cukup merosot, tetapi tentu saja wajar semacam itu karena ukuran yang bisa dibuktikan termasuk besar. Tetapi yang terang, bodiku masih tetap semlohai karena saya masih tetap punyai pinggang walapun bokongku termasuk besar. Saya sadar, jika badanku masih tetap tetap sanggup membuat beberapa pria menelan air liurnya.

Apalagi saya termasuk ibu-ibu yang menyukai gunakan pakaian yang cukup ketat. Sudah rutinitas sich dari remaja. Apalagi sekarang susuku tambah besar. Suamiku termasuk seorang petinggi yang bagus. Dianya ramah pada tiap orang. Di daerah dianya termasuk aparatur yang dicintai oleh beberapa tetangga. Apalagi suamiku cukup banyak bersahabat dengan beberapa anak muda daerah. Jika cocok di dalam rumah, suamiku seringkali mengundang beberapa anak muda untuk bermain dan terlibat percakapan di teras rumah.

Sejak satu tahun lalu, di halaman muka rumah kami dibikin mirip gazebo untuk kongkow beberapa tetangga. Sehabis beli tv baru, tv lama kami simpan di gazebo itu menjadi beberapa tetangga kerasan kongkow di sana. Yang terang, cukup banyak bapak-bapak yang curi-curi pandang ke badanku jika cocok saya beres-beres halaman alias ikut-ikutan nimbrung sesaat pada tempat tersebut. Wajarlah, saya khan ibu-ibu yang semlohai, hehehe.

Bukan hanya bapak-bapak, ada pula pemuda dan remaja yang seringkali bermain di dalam rumah. Satu diantaranya karena gazebo itu dipakai sebagai perpustakaan untuk masyarakat. Salah satunya anak daerah yang sekurang-kurangnya jarang-jarang bermain ke rumah adalah Eki, yang masih tetap SMP kelas 2. Dianya anak tetangga kami yang memiliki jarak 3 rumah dari tempat kami. Anaknya baik dan enteng tangan. Sama suamiku dianya benar-benar dekat, bahkan juga seringkali membantu suamiku jika sedang beres-beres rumah, alias membelikan kami suatu hal di warung. Semenjak masih tetap beberapa anak, Eki dekat sama beberapa anak kami, mereka seringkali bermain karambol bersama di gazebo.

Bahkan juga terkadang Eki bermalam di sana, karena jika malam gazebo itu dikasih penutup oleh suamiku, menjadi tidak berasa dingin. Pada sebuahmalam, saya dan suamiku sedang bermesraan di dalam kamar kami. Sejak seringkali melihat episode blowjob pada internet, saya menjadi ketagihan mengulum kontol suamiku. Apalagi kontol suamiku adalah kontol yang paling gagah sedunia buatku. Tidak kalah dari kontol-kontol yang umum kusaksikan di BF.

Walau sebenarnya dahulu waktu masih tetap manten muda saya teratur menampik jika dibawa blowjob. Entahlah mengapa sekarang pada usia yang sudah lebih 42, saya malah terpikat mengulum tangkai suamiku. Bahkan juga saya dapat orgasme cukup dengan mengulum tangkai besar tersebut. Setiap menonton film blue juga mulutku terasanya gatal. Jika cocok tidak ada suamiku, saya teratur bawa pisang jika menonton beberapa film gituan. Biasa sajalah, sekalian menonton sekalian makan pisang, hehehe.

Malam itu juga saya dengan rakus menjilat-jilati kontol suamiku. Untuk mas Prasetyo, mulutku adalah tempik ke-2 nya. Dengan berseloroh, dianya sebelumnya sempat katakan jika sebenarnya dianya sama juga sudah poligami, karena dianya punyai dua lubang yang sama hotnya untuk dimasuki. Perkataan itu ada betulnya, karena mulutku hampir seperti tempik, baik saat mengulum atau saat mengisap. Karena kami menghindar dari kehamilan, bahkan juga beberapa sperma suamiku masuk ke mulutku. Malam itu kami lupa jika Eki tidur di gazebo depan.

Seperti umumnya, saya berteriak-teriak di saat kontol suamiku mengaduk-aduk isi memekku. Suamiku benar-benar kuat. Malam itu saya sudah berulang-kali orgasme, sedangkan suamiku masih tetap fresh fit dan memacuku terus-terusan. Mendadak kami tersentak saat kami dengar suara bising di atas jendela. Selekasnya suami mengambil batangnya dan buka jendela. Di luar terlihat Eki dengan muka terkejut dan gemetar kedapatan melihat kami. Suamiku terlihat geram dan melihatkan tubuhnya keluar jendela.

Eki yang terkejut dan ketakutan loncat ke belakang. Karena sangat terkejutnya, kakinya terbentur selokan kecil di teras rumah. Eki terjatuh dan terjungkal ke belakang. Suamiku tidak menjadi geram, tetapi dianya kecewa . “Walah, Ndun! Kamu itu ngapain?” gertaknya. Eki ketakutan 1/2 mati. Dianya benar-benar menghargai kami. Suamiku yang semula kecewa juga tidak menjadi membentaknya. Eki gelagepan. Mukanya meringis meredam sakit, kelihatannya bokongnya terbentur suatu hal di halaman. Saya semula juga malu dilihat anak ingusan tersebut. Tetapi saya mengasihi Eki, bahkan juga seperti anakku sendiri. Saya sadar, sebenarnya kami yang keliru karena bercinta dengan suara segaduh tersebut. Saya selekasnya raih dasterku dan turut mendekati Eki. “Aduh, mas.

Kasian ia, tidak perlu dimarahi. Kamu sakit Ndun?” Saya dekati Eki dan memegang tangannya. Muka Eki benar-benar memelas, di antara takut, sakit, dan malu. “Sudah tidak papah. Kamu sakit, Ndun?” tanyaku. “Sini kamu coba berdiri, dapat tidak?” Karena gemeteran, Eki tidak berhasil coba berdiri, dianya justru terjatuh kembali. Dengan reflek, saya menggenggam punggungnya, menjadi kami berdua jadi berangkulan.

Dadaku sentuh lengannya, tentu saja dianya dapat rasakan halusnya gundukan besar dadaku karena saya cuma menggunakan daster tipis yang ikatan, sedangkan didalamnya saya tidak menggunakan apapun kembali. “Aduh sorri, Ndun,” pekikku. Mendadak suamiku ketawa. Cukup kecewa saya melihatnya, mengapa dianya menertawakan kami? “Aduh, Mas ini. Ada anak jatuh kok justru tertawa,” “Hahaha.. saksikan itu, Dik. Sang Eki kenyataannya sudah besar, hahaha…” kata suamiku sekalian menunjuk selangkangan Eki.

Weitss… kenyataannya mungkin barusan Eki melihat kami sekalian mengocak, karena di atas celananya yang cukup merosot, tangkai kecilnya berkesan muncul ke atas. Kontol kecil itu berkesan benar-benar tegang dan warna kemerah-merahanan. Malu saya melihat episode itu, apalagi sang Eki. Dianya tambah gelagepan. “Hussh, Mas. Kasihan ia, sudah malu tuch,” kataku yang malah tingkatkan malu sang Eki. “Kamu sukai saksikan baru saja, Ndun? Wah, hayooo… kamu gairah ya saksikan Bu Veronika?” goda suamiku. Dianya justru ketawa-ketawa sekalian berdiri di belakangku. Tentu saja muka Eki menjadi tambah memeras, mesikipun tetap kontol kecilnya tegak berdiri. Kecewa saya sama suamiku.

Sudah tidak menolonng justru menertawai anak ingusan tersebut. “Huh, Mas… mbok jangan godain ia, mbok tolongin nih, angkat ia!” “Lha dianya khan sudah berdiri.. ya tho, Ndun? Wakakak,” kata suamiku. Saya benar-benar tidak sampai hati melihat muka anak itu yang merah padam karena malu. Saya selekasnya berdiri mengangkang di depannya dan memegang dua tangannya untuk hebatnya berdiri. Berat tubuhnya. Kutarik kuat-kuat, pada akhirnya dianya terangkut . Tetapi baru 1/2 jalan, mungkin karena dianya masih tetap gemetaran dan saya pun tidak semakin kuat, mendadak malah saya yang jatuh menerpanya. Ohhh… saya berusaha untuk meredam tubuhku agar tidak menindih anak itu, tetapi tanganku justru menekan dada Eki dan membuatnya jatuh telentang sekali .

Bahkan juga ini hari, saya turut jatuh terduduk di pangkuannya. Dan… ohhhh! Sleppp… berasa suatu hal masuk pas di tempikku. Waah…!! Saya tersentak dan sebentar ragu apa yang terjadi, begitupun dengan Eki, mukanya terlihat benar-benar ketakutan. “Aduuuhhh!” teriakku. Sementara suamiku malah ketawa melihat kami jatuh kembali. Mendadak saya sadar apa yang masuk pas di lobang tempikku, kenyataannya kontol kecil sang Eki! Kontol itu secara gampang masuk ke dalam tempikku karena dari sisi tempikku masih tetap basah tersisa persetubuhanku dengan suamiku, karena saya tidak kenakan apapun dibalik daster pendekku. Ohhhhh…

apa yang terjadi? pikirku. Mungkin saja karena kontol Eki yang masih tetap imut dan lobang tempikku yang umum dicabuli kontol besar suami, jadi benar-benar gampang disisipin tangkai kecil tersebut. “Ohhh.. Masss?!!” desisku pada suamiku. Ini hari suamiku stop ketawa dan cukup mendongal terkejut. “Mengapa, Dek?” tanyanya bingung. Kami bertiga sama terkejut, suamiku kelihatannya mengetahui apa yang terjadi. Dianya dekati kami, dan melihat jika tangkai Eki sudah tenggelam di lobang tempikku.

Sekian hari kami bertiga termenung ragu dengan yang terjadi. Saya rasakan kontol Eki berdenyut dalam lobangku. Lobangku selekasnya menanggapinya, ingat rasa tanggung sehabis persetubuhanku dengan suamiku yang terlambat. Saya coba bangun, tetapi entahlah mengapa, kakiku menjadi gemetaran dan kembali selangkanganku menekan badan sang Eki. Tentu saja kontolnya menyerang lagi lobangku. Ohhh… saya rasakan kesan yang umum kutemui saat sedang bersetubuh. “Ohhh…” desisku. “Ahhh…” Eki turut terpekik ketahan. Mukanya memeras.

Tetapi saya rasakan bokongnya sedikit dinaikkan memberi respon selangkanganku. Slepppp…!! kembali kontol itu menyerang ke lobangku. Yang mengejutkan, suamiku diam saja, entahlah karena dianya terkejut alias apa. Cuma saya saksikan mukanya turut memeras dan sedikit buka mulutnya, mungkin ragu untuk bereaksi dengan keadaan aneh ini. Saya diam saja meredam napas sekalian memperkuat tanganku yang meredam badanku.

Tanganku ada di sisi kiri dan kanan sang Eki. Sementara Eki dengan muka merah padam melihat mukaku dengan cemas. Cukup jengkel saya saksikan wajahnya, cemas, takut, tetapi kok kontolnya masih tetap tegang dalam tempikku. Dasar anak cabul, pikirku. Tetapi aneh , saya malah rasakan kesan yang luar biasa karena ada kontol anak yang sudah kuanggap saudaraku sendiri itu dalam tempikku. Cukup kasihan melihat wajahnya, dan muncul rasa sayang. Pikirku, kasihan anak ini, dianya benar-benar bergairah melihat kami, dan apalagi yang dikawatirkan, karena kontolnya sudah telanjur menyerang ke tempikku. Saya melihat suamiku sekalian masih tetap duduk di pangkuan sang Eki.

Suamiku masih tetap diam saja. Cukup kecewa saya saksikan tanggapan mas Prasetyo. Mendadak pikiran nakal menyelimutinya. Mengapa tidak kuteruskan saja persetubuhanku dengan Eki, toh kontolnya sudah menancap di tempikku. Apalagi jika saksikan muka hornynya yang sudah di ubun-ubun, kasihan saksikan Eki jika tidak dilanjutkan. Dengan ngotot aku juga menekan lagi bokongku di depan.

Tempikku meremas kontol Eki di dalamnya. Rasakan remasan itu, Eki terpekik terkejut. Suamiku mendengus terkejut . “Dik, a-a-apa yang kau kerjakan?” kata suamiku gagap. Saya diam saja, namun saya mulai menggoyang bokongku mundur-maju. Suamiku melongo sekarang ini. Mukanya merapat melihat mukaku 1/2 tidak yakin. Eki tidak berani melihat suamiku.

Dianya melihat mukaku keheranan dan penuh gairah. “Mas… saya lanjutkan saja ya, kasihan sang Eki. Apalagi khan sudah telanjur masuk, toh sama saja…” bisikku berani. Saya tidak dapat kembali menyangka hati suamiku. Kecelakaan ini sangat di luar perdiksi kami semua. Tetapi suamiku menggenggam bahuku, yang aku pikir mengizinkan peristiwa ini. Entahlah apa yang telah ada di pikiranku, saya mendadak benar-benar ingin menyelesaikan gairah sang Eki. “Ahh… hh.. hh… ughh!!” Sang Eki mengerang-erang sekalian masih tetap tiduran di rumput-rumputan di pelataran rumah kami. Kembali saya memaju-mundurkan bokongku sekalian meremas-remas kontol kecil itu dalam lobangku.

Remasanku teratur membuat suamiku tidak kuat karena saya rajin turut senam. Apalagi ini sang Eki, anak ingusan yang tidak eksper. Mendadak, karena kesan yang aneh ini, saya rasakan orgasme dalam vaginaku. Jarang-jarang saya orgasme sekencang tersebut. Saya mendesah dan mengeluh sekalian menggenggam kuat lengan suamiku. Banjir mengucur dalam lobangku. Automatis remasan dalam tempikku kuat, dan kontol kecil sang Eki diapit hebat. Eki meringis dan mengeluh. Bokongnya meliuk naik dan…

crooooott-crooooott-crooooott…!! Cairan panasnya meletus banjiri rahimku. Saya seperti lenyap kendalian, semua mendadak gelap dan saya diserang oleh badai kepuasan… Ohh, saya terkulai lemas sekalian merunduk meredam badanku dengan ke-2 tangan. Napasku tersengal-sengal tidak karuan. Sesaat saya diam tidak paham wajib bagaimana. Saya dan suamiku sama-sama berpandangan. “Dik, I-Eki tidak p-pakai kondom.” kata suamiku terbata-bata.

Kami sama terkejut mengetahui jika pertalian cinta itu tanpa pengaman benar-benar, dan saya sudah terima tidak sedikit sperma dalam rahimku, sperma sang anak ingusan. Ohh… mendadak saya sadar akan dampak negatif dari persetubuhan ini. Saya dalam saat subur, dan benar-benar dapat menjadi saya akan memiliki kandungan anak dari Eki, bocah SMP yang masih tetap ingusan. Oohhhh… Perlahan-lahan saya berdiri dan mengambil kontol Eki dari tempikku. Kontol itu masih tetap 1/2 berdiri dan berkilat basah oleh cairan kami berdua. Saya dan suamiku menghela napas.

Segera saya mengatur dasterku. Dengan grogi, Eki meningkatkan celananya dan duduk ketakutan di rumput-rumputan. “Ma-ma’af, Bu..” pada akhirnya keluar suaranya. Saya melihat Eki dengan muka seramah mungkin. Suamiku yang pada akhirnya pegang peran. “Telahlah, Ndun. Sana kamu pulang, mandi dan cuci-cuci!” perintahnya tegas. “Iya, om.

Ma-maaf ya, Om,” kata Eki sekalian merunduk. Selekasnya dianya melaju pergi melalui halaman samping. “Masuk!” suamiku melihat ke arahku dengan suara cukup keras. Gemetaran saya dengar suamiku yang umumnya lembut dan mesra padaku. Aduuh, apa yang akan terjadi? Kami berdua masuk rumah, saya tercekat tidak dapat menjelaskan apapun. Mendadak beberapa pikiran buruk menderaku, jangan-jangan suamiku tidak memaafkanku. Ohh, apa yang dapat kulakukan? Dalam kamar tangisanku pecah. Saya tidak berani melihat suamiku. Saat lagi ini saya adalah istri yang setia dan berbahagia bersama suamiku, tetapi malam ini… mendadak saya merasa sangat kotor dan nista.

Cukup lama suamiku membiarkanku menangis. Pada akhirannya dianya mengelus bahuku. “Telahlah bu, ini khan kecelakaan.” ucapnya. Hatiku benar-benar lega. Saya melihat suamiku, dan mencium bibirnya. Mendadak saya jadi benar-benar takut kehilangan ia. Kami berangkulan lama sekali. “Tetapi, mas… jika saya hamil… bagaimana?” tanyaku membulatkan tekad. “Ah.. tidak mungkin, dianya khan masih tetap ingusan. Dan jika Dik Idah hamil, khan tidak papah, sang Sanggah sudah siap jika punyai adik kembali,” kata suamiku. Jawaban itu sedikit menentramkan hatiku. Pada akhirnya kami bercinta kembali.

Kurasakan suamiku demikian mengebu-gebu mengerjaiku. Apa yang telah ada di pemikirannya, saya tidak paham, walau sebenarnya dianya baru saja saja melihat istrinya ditiduri anak muda ingusan. Hingga-sampai saya kelelehan layani suamiku. Pada orgasme yang ke-3 aku juga berserah. “Mas, keluarin di mulutku saja ya… saya tidak kuat kembali,” bisikku pada orgasme ke-3 ku saat kami dalam posisi doggy. Suamiku keluarkan kontolnya dan menyorongkannya ke mulutku. Sekalian terbujur saya menyedot-nyedot kontol besar tersebut. Lebih kurang 1/2 jam selanjutnya, mulutku sarat dengan sperma suamiku. Dengan penuh kasih-sayang saya menelan semua cairan kental tersebut. Beberapa hari seterusnya berakhir dengan biasa.

Saya dan suamiku masih tetap dengan kemesraan yang masih sama. Kami seolah-olah lupakan peristiwa malam tersebut. Namun, Eki tidak berani bermain ke rumah. Cukup rindu kami dengan anak tersebut. Sebenarnya rumah kami dekat sama rumah Eki, tetapi saya tidak berani untuk melihat keadaan anak tersebut. Namun saya masih tetap seringkali bertemu ibunya, dan seringkali iseng tanya keadaan Eki. Ucapnya sich dianya baik saja, cuma sekarang kembali repot penyiapan ingin naik kelas 3 SMP. Satu minggu saat sebelum bulan puasa, Eki tiba ke rumah menemani kenduri keluarganya.

Mukanya masih tetap terlihat malu bertemu saya. Saya sendiri dengan ria menjumpainya di muka rumah. “Hai, Ndun, kok kamu jarang-jarang bermain ke rumah?” tanyaku. “Eh.. iya, bu. Tidak papah kok, Bu,” jawabannya sekalian tersipu. “Katakan ke mamamu, terima kasih ya,” “Iya, bu,” jawab Eki dengan canggung. Dianya bahkan juga tidak berani melihat mukaku. Entahlah mengapa saya merasa rindu sekali sama anak tersebut. Walau sebenarnya dianya terang masih tetap anak ingusan, dan bukan tipe-type anak SMP yang populer dan gagah seperti yang jago-jago bermain basket. Terang sang Eki tidak begitu gagah, tetapi ukuran sedang untuk anak SMP. Cuma tubuhnya bisa dibuktikan tinggi. “Mari masuk dahulu. Saya buatkan minum ya,” ajakku. Eki terlihat masih tetap cukup malu dan takut untuk masuk ke rumah kami. Siang itu suamiku masih tetap dinas ke Kulonprogo.

Beberapa anak pun tidak ada yang di dalam rumah. Kami terlibat percakapan sesaat berkenaan sekolahnya dan lain-lain. Sesekali saya merasa Eki melihat ke tubuhku. Wah, tidak tahu mengapa, saya merasa berbahagia diperhatiin sama anak tersebut. Saat itu saya kenakan kaos cukup ketat karena baru saja turut kelas yoga bersama ibu-ibu Candra Kirana. Tentunya dadaku berkesan benar-benar mencolok. Pada akhirnya tidak berlama-lama, Eki pamit pulang. Dianya terlihat lega sikapku kepadanya tetap sama sehabis peristiwa malam tersebut. Sampai pada bulan seterusnya, saya mendadak resah. Hampir melalui dua minggu saya belum tiba bulan.

Tentu saja peristiwa saat itu membuatku semakin bertambah cemas. Bagaimana jika sangat jadi? Saya tidak berani katakan pada Mas Prasetyo. Untuk lakukan tes saja saya benar-benar takut. Ngerinya jika positif. Sampai pada sebuahpagi saya lakukan tes kehamilan di dalam kamar mandi. Dan, deg! Hatiku seperti akan lepas. Lembar kecil itu memperlihatkan jika saya positif hamil. Oh, Tuhan!! Saya sangat terkejut dan tidak yakin. Terang ini bukanlah anak suamiku. Kami teratur bercinta secara aman. Dan terang sesuai waktu peristiwa, ini adalah anak Eki, sang anak SMP yang masih belum cukup usia. Saya sangat kebingungan.

Sepanjang hari saya tidak dapat fokus. Pikiranku kacau tidak karuan. Tidak saja karena saya belum siap untuk punyai anak kembali, tetapi juga bagaimana reaksi suamiku jika saya hamil dari lelaki lain. Tersebut yang paling membuatku kebingungan. Hari itu saya tidak berani untuk memberitahu suamiku. 2 hari selanjutnya, malah suamiku yang rasakan ketidaksamaan sikapku. “Dik Idah, ada apakah? Kok kelihatannya tidak kurang sehat?” tanyanya penuh perhatian. Saat itu kami sedang tidur bedua. Saya tidak dapat keluarkan kata-kata. Yang kulakukan cuma merengkuh suamiku erat-erat. Suamiku membalasnya dekapanku. “Ada apakah sayang?” tanyanya.

Tubuh kekarnya merengkuhku mesra. Saya teratur merasa tenang dalam dekapan lelaki gagah tersebut. Saya tidak berani menjawab. Suamiku menggenggam mukaku, dan menghadapkan ke wajahnya. Kelihatannya dianya mengetahui apa yang terjadi. Sekalian melihat mataku, dianya menanyakan, “Apakah benar?” Saya menggangguk perlahan sekalian menangis, “Saya hamil, mas…” Terang suamiku terkejut. Dianya diam saja sekalian masih tetap merengkuhku. Lantas dianya menjawab singkat, “Esok kami ke dokter Merlin.” Saya menggangguk, lantas kami sama-sama berangkulan sampai pagi datang.

Hari seterusnya, sore-sore kami berdua menjumpai dokter Merlin. Sehabis dilaksanakan tes, dokter elok itu memberikan selamat pada kami berdua. “Selamat, Pak dan Bu Prasetyo. Kamu akan mendapat anak ke-3 ,” kata dokter itu ria. Kami ucapkan terima kasih atas perkataan itu, dan sepanjangnya jalan pulang tidak menjelaskan sepatah kata juga. Sehabis itu suamiku tidak menyentuh masalah itu kembali, bahkan juga dianya memberitahu pada beberapa anak jika mereka akan punyai adik baru. Beberapa anak kenyataannya berbahagia karena sudah lama tidak ada anak kecil di dalam rumah.

Untuk mereka, adik kecil akan meramaikan rumah yang sekarang sudah tak lagi ada suara anak kecilnya. Malamnya, sehabis tahu saya hamil, suamiku malah meniduriku dengan garang. Saya tidak paham apa dianya ingin agar anak itu luruh alias karena dianya merasa benar-benar bergairah padaku. Yang terang saya menyambutnya dengan tidak kalah bergairah. Bahkan juga kami baru tidur mendekati jam 3 pagi hari sehabis semalaman kami bergulat di kasur. Saya tidak paham kembali bagaimana bentuk mukaku malam itu karena semalaman mulutku disikat-sodok terus oleh kontol suamiku, dan dipenuhi dengan muncratan spermanya yang sampai 3x membasahi muka dan mulutku.

Saya nyaris tidak dapat bangun pagi harinya karena semua badanku seperti hancur dikerjain suamiku. Untungnya besok itu hari liburan, menjadi saya tidak wajib cepat-cepat mempersiapkan sekolah beberapa anak. Beberapa hari seterusnya berakhir dengan hebat. Suamiku semakin bertambah hot tiap malam. Saya teratur merasa horny. Wah, untung jika semua ibu-ibu ngidamnya kontol suami seperti kehamilanku ini hari. Hamil ini hari benar-benar lain dengan kehamilanku awalnya yang umumnya gunakan ngidam tidak karuan. Hamil ini hari malah saya merasa benar-benar rileks dan bergairah birahi tinggi.

Tiap malam tempikku berasa senut-senut, ada dengan kata lain tidak ada suamiku. Jika cocok ada ya sedap, saya tinggal naik dan goyang-goyang pinggang. Jika cocok tidak ada, saya yang menjadi ketidaktahuan dan pada akhirnya mencari beberapa film porno pada internet. Kemudian tentu saya mainkan tempekku gunakan pisang, yang menjadi langgananku di pasar tiap pagi, hehehe. Yang menjadi masalah adalah butuhkah saya memberitahu sang Eki jika saya hamil dari benihnya? Saya tidak berani menanyakan pada suamiku.

Dianya memberikan dukungan kehamilanku saja sudah benar-benar membahagiakanku. Saya jadi berbahagia dengan kehamilan ini. Di luar sangkaanku, kenyataannya kami satu keluarga sudah siap menyongsong anak buah baru keluarga kami. Tersebut faktor yang benar-benar kusyukuri. Cocok bulan puasa, mendadak suamiku lakukan suatu hal yang mengejutkan. Dianya mengundang Eki untuk membantu beres-beres rumah kami. Tentu saja saya berbahagia karena suamiku sudah dapat terima peristiwa saat itu. Saya berbahagia melihat mereka berdua gotong-royong bersihkan halaman dan tahapan di rumah.

Eki dan Mas Prasetyo terlihat sudah berlaku biasa seperti saat sebelum peristiwa malam tersebut. Bahkan juga kadang-kadang Eki bermalam lagi di gazebo kami, karena kami merasa sepi tidak ada kedatangan beberapa anak. Sang Rika terus repot dengan masalah kampusnya, sedangkan sang Sanggah cuma saat malam hari saja memperlihatkan wajahnya di dalam rumah. Sejak itu, situasi di dalam rumah kami jadi lagi seperti yang lalu.

Tetap gazebo depan rumah seringkali ramai didatangi orang. Hanya sekarang Eki tidak sebelumnya sempat kembali bermalam di situ. Mungkin karena nyaris ujian, menjadi dianya wajib cukup banyak belajar di dalam rumah. Beberapa waktu selanjutnya, badanku mulai berbeda. Perutku mulai berkesan membuncit. Ke-2 payudara jadi membesar. Bisa dibuktikan jika hamil, saya teratur alami bengkak pada ke-2 payudaraku. Hormonku membuatku teratur bergairah. Mas Prasetyo juga seolah-olah turut alami peralihan hormon. Gairah seksnya terus menggebu melihat peralihan di badanku. Jika cocok di dalam rumah, tiap malam kami berperang mati-matian.

Gawatnya, payudaraku yang bisa dibuktikan awalnya sudah besar jadi bertambah besar. Semua bra yang kucoba sudah tidak muat kembali, walau sebenarnya bra yang kupakai adalah ukuran terbesar yang berada di toko. Kata yang jual, saya wajib pesan dahulu untuk beli bra yang cocok di ukuran dadaku sekarang ini. Pada akhirnya saya ngotot jika di dalam rumah jarang-jarang menggunakan bra. Terkecuali jika keluar, itu juga saya jadi teraniaya karena bengkak payudaraku. Saya jadi seperti mesin sex.

Dadaku besar dan bokongku membusung. Seakan tidak sebelumnya sempat senang secara bercinta tiap malam. Suamiku menyeimbangiku dengan gairahnya yang semakin bertambah besar. Eki pada akhirnya tahu kehamilanku. Dianya seringkali curi-curi pandang melihat perutku yang mulai membuncit. Saya tidak paham, apa dianya sadar jika anak dalam kandunganku adalah dari hasil kerjakanannya. Yang terang, Eki jadi benar-benar perhatian padaku. Tiap sore dianya ke rumah untuk membantu apa. Pada sebuahmalam, Mas Prasetyo wajib pergi dinas ke luar kota.

Malam itu kami biarkan Eki sampai malam di dalam rumah kami, sekalian membantu jaga rumah. Saya wajib turut pengajian dengan ibu-ibu daerah. Jam 1/2 sepuluh malam saya baru pulang. Sampai di dalam rumah, saya saksikan Eki masih tetap kerjakan pekerjaan sekolahnya di ruangan tamu. “Ndun, Sanggah sudah pulang?” tanyaku sekalian menyimpan payung karena malam itu hujan turun cukup deras. “Belum, Bu,” Saya lantas menelepon anak tersebut.

Kenyataannya dianya sedang kerjakan pekerjaan di dalam rumah temannya. Saya yakin dengan Sanggah, karena dianya tidak sama beberapa anak yang menyukai hura-hura. Dianya tipe anak yang benar-benar serius saat belajar. Apalagi sekolahnya adalah sekolah panutan di kota kami . Maka kubiarkan saja dianya bermalam di dalam rumah temannya tersebut. Saya lantas menjelaskan ke Eki, “Kamu nginap sini saja ya, saya takut nih, hujan deres sekali dan Mas Prasetyo tidak pulang malam hari ini.” Bisa dibuktikan saya teratur tidak sedap hati jika cuaca buruk tanpa mas Prasetyo. Ngerinya jika ada angin besar dan lampu mati.

Apalagi kami sudah tidak lagi ada masalah dengan peristiwa saat itu. “Iya, bu, sekaligus saya ngerjain pekerjaan di sini,” jawab Eki. Saya melepaskan kudungku dan duduk di muka tivi di ruangan keluarga. Cukup malas saya mengganti daster, dan ada sang Eki, tidak sedap jika dianya nantinya keingat peristiwa dahulu. Sekalian masih tetap tetap gunakan pakaian muslim panjang saya menyelonjorkan kakiku di atas sofa, sedangkan sang Eki masih tetap repot kerjakan kalkulus di ruangan tamu.

Bajuku pakaian panjang terusan. Cukup panas karena pakaian panjang itu, pada akhirnya saya masuk kamar dan melepaskan bra yang menganiaya payudara lebamku. Saya melepaskan cd ku karena lembab yang luar biasa di lubang tempikku. Mahfum bunda hamil. Jika anda saksikan saya malam itu mungkin anda pun akan gairah dech, masalahnya mesikipun gunakan pakaian panjang, tetapi semua lekuk badanku pada kelihatan karena bokong dan payudaraku bisa dibuktikan jadi membesar.